EKONOMI

SheHacks Solusi Ketimpangan Pendanaan Startup Perempuan, Buka Jalan Menuju  Ekosistem Inklusif  

×

SheHacks Solusi Ketimpangan Pendanaan Startup Perempuan, Buka Jalan Menuju  Ekosistem Inklusif  

Sebarkan artikel ini
PRO PEREMPUAN: Wamen Ekonomi Kreatif Irene Umar, Chief Legal & Regulary Officer IOH Reski Damayanti, Head of Programmes UN Women Indonesia Dwi Yuliawati, CEO Tentang Anak Mesty Ariotedjo, dan Managing Director KUMPUL Mega Prawita saat menghadiri Peluncuran SheHacks 2025 di Jakarta, Jumat (25/4/2025). (sri/radarsukabumi)
PRO PEREMPUAN: Wamen Ekonomi Kreatif Irene Umar, Chief Legal & Regulary Officer IOH Reski Damayanti, Head of Programmes UN Women Indonesia Dwi Yuliawati, CEO Tentang Anak Mesty Ariotedjo, dan Managing Director KUMPUL Mega Prawita saat menghadiri Peluncuran SheHacks 2025 di Jakarta, Jumat (25/4/2025). (sri/radarsukabumi)

JAKARTADi tengah pesatnya pertumbuhan ekosistem startup di Indonesia, ketimpangan akses  pendanaan antara pelaku usaha laki-laki dan perempuan masih menjadi tantangan besar.  Data dari SheHacks Impact Report mencatat bahwa hanya 14% startup yang dipimpin oleh  perempuan berhasil memperoleh pendanaan dari venture capital—angka yang belum  sebanding dengan potensi besar kontribusi perempuan terhadap perekonomian nasional. 

Menurut International Finance Corporation (IFC), sekitar 70% UMKM milik perempuan di  Indonesia mengalami kesenjangan pembiayaan. Sementara itu, McKinsey melaporkan  bahwa hanya 11% posisi kepemimpinan di sektor teknologi dipegang oleh perempuan.  Ketimpangan ini bukan hanya soal akses modal, tetapi juga minimnya kepercayaan investor  terhadap kemampuan perempuan sebagai founder. 

Bank bjb Tandamata

Namun, SheHacks, program pemberdayaan perempuan berbasis teknologi yang digagas  oleh Indosat Ooredoo Hutchison, menunjukkan arah yang berbeda. Dalam lima tahun terakhir,  SheHacks telah memberi wadah bagi lebih dari 34,000 perempuan untuk bertumbuh melalui  berbagai program seperti Startup Lab, Ideation Lab, dan Innovate Lab. 

Meski skor dampak SheHacks terhadap kemampuan peserta dalam mengakses pendanaan  masih tergolong moderat (rata-rata 2,88 dari 5), dampak terhadap pertumbuhasn bisnis dan  perluasan pasar sangat terasa. Sebanyak 25% peserta berhasil masuk ke lima pasar baru, dan  hampir 80% startup peserta menciptakan lapangan kerja baru. Bahkan, beberapa startup  binaan mencatat peningkatan pendapatan hingga tiga kali lipat. 

Lebih dari sekadar program pelatihan, SheHacks menghubungkan peserta dengan mentor,  investor, hingga peluang validasi internasional. Pada tahun 2024, lima startup terpilih  mendapat kesempatan mengikuti Validation Trip ke Sydney, Australia—sebuah terobosan  yang membuka pintu kolaborasi lintas negara dan akses investor global. 

“Melalui SheHacks, kami menyadari betapa kuatnya inovasi berbasis komunitas dalam  menjawab kebutuhan nyata ibu menyusui. Inisiatif ASI Camp yang kami jalankan berhasil  menjangkau lebih dari 190 ibu dari 50 kota dan 3 negara, serta meningkatkan pemahaman  mereka tentang pentingnya ASI dari 55% menjadi 89%. Yang paling membahagiakan, 100%  peserta merasa lebih termotivasi untuk memberikan ASI eksklusif. Perjalanan ini membuktikan  bahwa dengan ekosistem yang tepat, sebuah ide sederhana bisa tumbuh menjadi gerakan  yang memperkuat kesehatan ibu dan anak sejak dini.” ungkap Vidya Rahma H, CEO & Co Founder Kutipan untuk DonASI. 

Apa yang dilakukan SheHacks menjadi pembuktian bahwa ketimpangan gender dalam  pendanaan bukan persoalan kapasitas, melainkan keterbatasan akses dan sistem yang  belum inklusif. Dengan upaya konsisten dan strategi yang tepat, perempuan Indonesia bukan  hanya bisa bersaing, namun mereka juga bisa memimpin.

Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar yang turut hadir dalam peluncuran She Hacks 2025 di Gedung Indosat Marvel Experience Center,Jakarta Pusat mengajak para perempuan untuk pintar melihat dan memanfaatkan kesempatan untuk tumbuh dan berdaya.

“Kesempatan itu bisa hadir jika ada kemauan,” kata Irene Umar.

Ia memaparkan lebih teknis. Sebagai contoh hampir semua orang saat ini memiliki dan pintar menggunakan gawai sehingga mudah untuk mengakses teknologi, tapi semua itu tergantung dari yang menggunakannya apakah dia memiliki kemauan atau tidak.

“Nah kalau waktu itu tinggal dicari,  semua itu tergantung dari kita mau atau tidak, karena saat menghabiskan 0-15 menit Waktu kita, itu sebuah permulaan. Satu hari ada 24 jam, kalau kita tidak bisa menyisihkan 5-15 menit untuk diri kita sendiri, apakah sudah cukup mencintai diri kita?,” tegasnya.

Sementara itu, Director & Chief Human Resources Officer IOH Irsyad Sahroni memaparkan bahwa Indosat meluncurkan SheHacks 2025 dan menargetkan menjangkau lebih dari 34.000 perempuan dari seluruh Indonesia.

“Indosat adalah satu dari sebagian perusahaan yang punya kesadaran tinggi tentang pentingnya women empowerment. Kami berharap program ini bisa terus berkembang, bisa mengundang lebih banyak lag potential impecful partner to join this platform,” pungkasnya. (sri)