EKONOMI

IHSG Menguat 1,72 % ke Level 6.209, Jelang Libur Lebaran

Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menjelang libur panjang Lebaran dimanfaatkan investor untuk belanja saham-saham unggulan. Pada perdagangan saham Jumat (31/5), hari terakhir perdagangan sebelum libur panjang Lebaran, IHSG ditutup menguat 205,01 poin atau naik 1,72 persen ke level 6.209.

Sebagaimana diketahui, sepekan ke depan, Bursa Efek Indonesia (BEI) akan libur mulai dari 1 Juni sampai 10 Juni 2019 menyusul cuti bersama yang telah ditetapkan pemerintah menyambut perayaan Idul Fitri 1440 H. Pada perdagangan hari ini, sebanyak 15,234 miliar saham berpindah kepemilikan dengan nilai transaksi mencapai Rp 10,80 triliun.

Setelah mencatatkan kenaikan yang cukup signifikan pada perdagangan hari ini, analis Panin Sekuritas William Hartanto memprediksi perdagangan saham usai libur panjang Lebaran akan bergerak mendatar meski selama sepekan menjelang libur panjang IHSG terus memasuki uptrend.

“Justru setelah lebaran akan sideways karena menunggu realisasi kinerja Q2. Sideways ini bukan akhir dari trend namun hanya fase re-akumulasi saja,” kata William ketika dihubungi JawaPos.com, Jumat (31/5).

Dua tahun terakhir pasca libur panjang lebaran, pergerakan IHSG memang telah menunjukkan pergerakan yang berbeda-beda. Pada usai libur lebaran 2018 lalu misalnya, IHSG terkoreksi cukup dalam saat pasar dibuka setelah libur selama tujuh hari. Saat itu, indeks komposite turun 1,82 persen atau sebesar 109,58 poin menjadi berada di level 5884,03.

Pergerakan IHSG usai libur panjang lebaran pada 2017 justru beda lagi. Perdagangan IHSG pada pembukaan pertama usai libur lebaran justru naik 0,29 persen atau 16,89 poin di level 5.846.60. Berbeda dengan William, Analis Bina Artha Sekuritas Nafan Aji meyakini perdagangan saham pasca libur panjang lebaran justru mengalami kenaikan.

“Untuk 10 Juni – 14 Juni 2019, pergerakan IHSG secara teknikal diproyeksikan menguat dengan range 5990 – 6310,” kata Nafan saat dihubungi JawaPos.com, Jumat (31/5).

Dia mengatakan, stabilitas fundamental makroekonomi domestik yang inklusif dan berkesinambungan merupakan sentimen positif dari domestik. Sebaliknya, pelaku pasar mengapresiasi penetapan S&P dalam menaikkan rating outlook ekonomi Indonesia dari BBB- menjadi BBB, yakni di atas level layak investasi.

Di sisi lain, imbuh dia, data makroekonomi seperti cadangan devisa, indeks keyakinan konsumen, beserta data-data inflasi per Mei yang diprediksikan masih cenderung stabil juga akan mempengaruhi pergerakan IHSG ke depan. Namun, ada yang perlu diantisipasi terkait pergerakan IHSG ke depan.

“Sentimen global seperti US-China trade war, global economic uncertainty, dan geopolitics adalah sentimen-sentimen yang perlu diantisipasi oleh para pelaku pasar,” pungkasnya.( JPG )

Editor : Mohamad Nur Asikin

Reporter : Igman Ibrahim

Tags
loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button