Pada awal tahun, tambahnya, harga TBS mengalami peningkatan bila dibandingkan Desember 2018. Hal itu disebabkan harga CPO yang mulai membaik. Seiring meredanya tekanan harga CPO dunia. “Meskipun harga TBS belum setinggi awal tahun lalu, namun sudah sangat baik. Sedikit demi sedikit akan terus naik,” tuturnya.
Dia menjelaskan, tahun ini diprediksi harga CPO masih tertekan. Namun lebih longgar dari 2018. Beberapa faktor yang bisa membantu harga CPO menguat pada 2019 antara lain potensi meningkatnya permintaan minyak sawit di dalam negeri, dari suplai bahan baku biodiesel.
Sehingga tahun ini, ada kemungkinan harga CPO jauh lebih baik. “Tekanan harga pasti ada tapi tidak setiap bulan, pasti ada bulan tertentu harga TBS meningkat,” tegasnya.
Terpisah, Wakil Gubernur Kaltim Hadi Mulyadi mengatakan, pemerintah daerah hanya bisa menjadi fasilitator dan tidak bisa serta-merta menaikkan harga TBS. Karena harga tersebut tidak muncul dengan sendirinya. Pasti ada faktor pemicunya.
Faktor internasional juga turut memengaruhi harga TBS Bumi Etam. Ta hanya itu, faktor internal seperti kelebihan stok, transportasi yang terganggu, dan sebagainya juga berdampak pada harga. “Makanya, rendahnya harga TBS terjadi pada beberapa daerah saja. Ada juga yang masih bagus harganya,” ujarnya.
Menurutnya, sekarang harga TBS sudah mulai membaik. Belum setinggi biasanya namun terus-menerus membaik, tidak menurun.
“Itulah pentingnya ada asosiasi pengusaha kelapa sawit, petani dan sebagainya, agar pemerintah bisa antisipasi itu berkat informasi langsung dari pengusaha. Kami hanya bisa menjadi fasilitator, namun upaya peningkatan harga TBS terus dilakukan,” pungkasnya.
(*/ctr/ndu/k15)




