Simak Hukum Puasa Ramadhan Bagi Lansia dan Orang Pikun?

Ilustrasi Lansia Sumber: (Pexels.com/ cottonbro studio)
Ilustrasi Lansia Sumber: (Pexels.com/ cottonbro studio)

JAKARTAHukum menjalankan ibadah puasa dilakukan bagi seluruh umat Islam dalam keadaan sehat lahir dan batin, serta mampu untuk menahan haus dan lapar hingga fajar terbenam.

Lantas bagaimana dengan seorang lanjut usia (lansia) atau orang yang memiliki ganguan jiwa serta orang pikun?

Bacaan Lainnya

Nampaknya secara mental mereka dikategorikan dalam orang yang tidak mampu melaksanakan ibadah puasa dengan baik. Secara biologis telah terjadi degenerasi dari sel-sel yang dimiliki, sehingga fungsi organ tubuh juga menurun.

Kemampuan puasa para lansia ini tidak sebagaimana orang sehat yang lebih muda. Lantas lansia seperti apa yang boleh tidak berpuasa?

Tidak semua lansia merasa perlu tidak berpuasa karena dorongan keislaman mereka. Tentu hal ini mesti direspek dan didukung sepenuhnya.

Namun para lansia mesti mendapatkan pemantauan dan perhatian agar bisa hidup lebih bahagia, tetap bersosialisasi di masa tuanya, dan mendapatkan dukungan untuk tetap bersikap positif di masa tua.

Karena itu kalangan lansia ini perlu untuk memiliki wali atau pendamping. Dalam konteks Indonesia, peran anak, keluarga, serta lingkungan sekitar sangat diperlukan dalam menemani dan mendampingi perkembangan kesehatan lansia yang ada di lingkungan keluarga sendiri.

Orang lansia digolongkan sebagai kalangan yang boleh tidak berpuasa disebabkan “uzur yang tidak dapat dihilangkan”. Masuk kategori ini adalah sakit parah dan orang lanjut usia.

Demikian disebutkan dalam I’anatut Thalibin syarah kitab Fathul Mu’in dikutip dari NU Online, sebagai berikut.

“Puasa Ramadhan itu wajib bagi setiap mukallaf yang baligh dan berakal, yang mampu melaksanakan puasa secara fisik maupun syara’. Maka puasa tidak wajib bagi anak-anak serta orang dengan gangguan jiwa. Serta tidak wajib bagi orang yang tidak mampu melakukannya disebabkan lanjut usia, atau penyakit yang tidak dapat disembuhkan dan wajib mengeluarkan (fidyah) setiap hari satu mud.”

Dengan demikian orang lanjut usia yang dipandang tidak mampu berpuasa, wali atau pendampingnya mesti membantu orang tersebut untuk menyalurkan fidyah harian sebanyak 1 mud (sekitar 7 ons) perhari.

Saat lanjut usia, terjadi juga degenerasi sel otak, yang menghambat fungsi fisik dan pikiran. Orang tua akan bergerak lebih lambat, mulai susah mengingat sesuatu, dan sulit melakukan aktivitas-aktivitas yang lebih detail.

Pada taraf tertentu, orang-orang tua ini akan mengalami kepikunan – dengan susah mengingat hal-hal yang bahkan cukup sederhana.

Pikun pada lansia tidak dapat benar-benar disembuhkan, namun dapat diterapi agar penurunan fungsi memorinya tidak parah dan progresif, mengingat kondisi lanjut usia meniscayakan sel-sel saraf di otak berkurang kemampuannya. Hal ini agar aktivitas mengurusi diri sendiri dapat dilakukan dengan baik.

Perlu diketahui bahwa kepikunan ini lain dengan kondisi demensia. Lansia yang pikun adalah keniscayaan dari penurunan fungsi sel saraf – khususnya bagian memori.

Namun pada demensia, selain ada gangguan kognitif, diikuti juga ganguan aspek mental dan perilaku, yang didasari oleh penyakit tertentu, seperti stroke (pada demensia vaskular), Alzheimer, atau akibat pasca penggunaan obat psikotropika.

Penilaian kondisi demensia salah satunya dengan menilai indeks ADL (activity daily living). Pada pengidap demensia – terlebih pada taraf yang progresif, sudah tentu ia tak wajib berpuasa.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *