SUKABUMI – Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Provinsi Jawa Barat, akhirnya angkat bicara soal gerombolan ratusan monyet ekor panjang yang menyerang lahan pertanian warga di wilayah Desa Sukamekar, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Sukabumi.
Plt Kepala Resor Konservasi Wilayah VII Sukabumi BBKSDA Jabar, Isep Mukti Miharja mengatakan, penyebab gerombolan monyet yang turun ke permukiman warga dan juga merusak pertanian dan masuk ke dapur di salah satu pondok pesantren yang ada di wilayah tersebut, terjadi karena perubahan prilaku.
“Kalau prediksi kami ini, turunnya kawanan monyet itu karena perubahan perilaku. Kalau berbicara over populasi kawanan monyet itu, harus dibuktikan dengan data. Karena belum ada kajian jumlah populasi monyet di kaki Gunung Gede Pangrango dari tahun ke tahun,” kata Isep kepada Radar Sukabumi pada Minggu (04/06).
BACA JuGA :Ratusan Monyet Ekor Panjang Serang Warga Sukaraja, Camat : Sudah Kami Laporkan
Setelah mendapatkan laporan itu, ia langsung berkoordinasi dengan berbagai pihak mulai dari pemerintah kecamatan, desa dan pondok pesantren yang terdampak dari serangan kawanan monyet tersebut. “Selain itu, kami akan berkoordinasi dengan perkebunan dan taman nasional. Nah, dari situ kita akan bawa berkas-berkas itu sebagai bahan masukan untuk ditindaklanjuti. Makanya berkas dari situ kita akan sampaikan ke BKSDA Bogor untuk dikaji,” tandasnya.
Bukan hanya itu, Resor Konservasi Wilayah VII Sukabumi pada BBKSDA Jabar ini, juga sudah mengantongi beberapa rencana untuk penanganan dalam menyikapi fenomena turunnya kawanan monyet tersebut. Salah satunya, dengan menggandeng stakeholder yang fokus pada primata monyet.
BACA JUGA : Tiga Wilayah di Desa Sukamekar Sukabumi Diserbu Ratusan Monyet Ekor Panjang
“Kalau penyebab monyet itu turun ke bawah atau ke permukiman, jika disinyalir karena over populasi tersebut, belum jelas yah. Karena mamang harus dikaji dulu. Namun, apabila misalnya sudah menjadi perubahan perilaku, mungkin karena orang perkebunan atau warga setempat menyatakan dari dulu juga ada kawanan monyet disana. Nah, ini artinya itu ada habitat monyet di wilayah tersebut,” bebernya.
Untuk itu, ia menilai kawanan monyet telah hidup di antara hutan dan permukiman warga. Setelah ada perkebunan, kawanan monyet ini merasa semakin mudah untuk mencari makanan. Terlebih lagi, kondisi saat ini banyaknya para penggarap pertanian di perkebunan dan ini dimungkinkan menjadi salah satu alasan mereka mengubah perilaku hingga turun ke bawah.
“Jadi, sebelumnya misalkan mereka itu hanya makan di tempat-tempat koridor. Namun, ketika ada pertanian, kawanan monyet itu masuk ke situ jadi lebih mudah,” timpalnya.
Sebab itu, salah satu solusi yang harus dikaji dalam menyikapi persoalan tersebut tidak lain, masyarakat setempat harus bisa membiasakan diri untuk hidup berdampingan dengan kawanan monyet tersebut. “Iya, harus seperti itu. Karena, monyet juga memiliki hak untuk hidup. Jadi bukan serta merta memindahkan habitat mereka. Kalau itu dilakukan ini bisa menjadi masalah baru ke tempat lain. Intinya, masyarakat disana harus bisa berdampingan dengan monyet itu, tapi tidak menggangu,” pungkasnya. (Den)






