BERITA UTAMA

Seniman Desa Sasagaran Tembus Brasil Lewat Lukisan Asap dan Kopi

×

Seniman Desa Sasagaran Tembus Brasil Lewat Lukisan Asap dan Kopi

Sebarkan artikel ini
FOTO : DENDI/RADAR SUKABUMI PATUT DITIRU : Nay  Sunarya (43) warga Kampung Selajambu, Desa Sasagaran, Kecamatan Kebonpedes, Kabupaten Sukabumi, saat melukis dengan teknik tidak biasa di rumah sederhananya. 
PATUT DITIRU : Nay  Sunarya (43) warga Kampung Selajambu, Desa Sasagaran, Kecamatan Kebonpedes, Kabupaten Sukabumi, saat melukis dengan teknik tidak biasa di rumah sederhananya. (FOTO : DENDI/RADAR SUKABUMI)

SUKABUMI – Di sebuah rumah sederhana di Kampung Selajambu, Desa Sasagaran, Kecamatan Kebonpedes, aroma kopi pekat dan jelaga menyatu dalam ruang kerja seniman lokal Nay Sunarya (43). Dari tempat inilah lahir karya-karya unik yang tak hanya memikat mata, tetapi juga mengharumkan nama Sukabumi hingga ke Brasil.

Dengan teknik tak biasa, Nay melukis menggunakan medium asap dan kopi. Ia mengarahkan nyala api kecil ke selembar kertas, membiarkan jelaga menempel membentuk guratan. Sedikit gangguan saja—sentuhan tangan atau hembusan angin—bisa merusak seluruh proses.

Bank bjb Tandamata

“Karakter asap itu paling sulit. Kalau kena gores tangan sedikit saja langsung hilang,” ujar Nay kepada Radar Sukabumi, Jumat (28/11/2025).

Meski bukan lulusan seni rupa, kecintaan Nay terhadap dunia gambar tumbuh sejak sekolah dasar. Setelah lulus SMP, ia terus mengasah kemampuan melalui berbagai teknik, mulai dari airbrush hingga lukisan realis. Teknik kopi ia kuasai lebih dulu, sementara teknik asap mulai ia eksplorasi sejak pandemi COVID-19 tahun 2020.

“Karena saya pecinta kopi juga, akhirnya saya alihkan minat ke kopi di kanvas. Jadi bukan cuma diminum saja,” tuturnya sambil tersenyum.

Melukis wajah tokoh publik menjadi tantangan tersendiri. Salah satu karya tersulitnya adalah potret Kang Dedi Mulyadi (KDM), yang menuntut presisi tinggi baik dengan kopi maupun asap.

Kini, nama Nay dikenal luas. Ia rutin menerima pesanan dari berbagai daerah, terutama potret tokoh publik, akademisi, dan pejabat. Harga karyanya berkisar antara Rp1 juta hingga Rp3 juta, tergantung ukuran dan tingkat kesulitan.

Prestasi gemilang diraihnya saat dua karyanya dipamerkan di Brasil pada akhir 2024 dan kembali terpilih dalam pameran internasional pada Oktober 2025. Ia mewakili Indonesia dalam kolaborasi seni bersama 30 negara. Meski tanpa dukungan biaya dari pemerintah, Nay tetap berkarya dengan semangat.

“Biaya kirim karya saja lumayan. Tapi yang penting karya terus jalan,” katanya.