Untuk satu lukisan asap berukuran standar, Nay membutuhkan waktu tiga hari. Sedangkan lukisan kopi ukuran 60×80 cm bisa selesai dalam sepekan. Peralatannya pun sederhana: lampu minyak tanah, pisau cutter, akrilik medium, dan ampas kopi Bintoha dari Ciwidey.
Terinspirasi dari dua seniman Kanada, Steven Spazuk dan John Williams, Nay menyesuaikan tekniknya dengan material yang tersedia di Indonesia. Pesanan kini banyak datang melalui media sosial dan WhatsApp.
Namun di balik popularitasnya, Nay menyimpan mimpi besar: menjadikan seni sebagai bagian dari kehidupan masyarakat desa.
“Supaya ada wisatawan datang, anak-anak sekolah juga bisa ikut workshop seni. Seni harus dekat dengan masyarakat,” tegasnya.
Ia berharap setiap desa di Kecamatan Kebonpedes memiliki galeri mini atau ruang publik untuk pameran rutin, tempat belajar seni, sekaligus ruang merayakan kreativitas warga.(den/d)






