“PSK mayoritas luar Bogor, kalau yang jaga vila dan penjaja PSK itu warga saya, warga asli daerah situ,” keluh Cacuh seraya menggelengkan kepala.
Ia mengaku sempat dibingungkan dalam mengambil keputusan lantaran banyaknya warga Cacuh yang ikut ambil bagian dalam bisnis lendir tersebut. “Kalau bukan warga pribumi yang melakukan sudah habis diamuk masa saya yakin,” cetusnya dengan nada kesal.
Cacuh mengaku dirinya merasa serba salah dalam pengambilan kebijakan, terkait lokalisasi tersebut. Bahkan ia berharap pemerintah pusat Bumi Tegar Beriman dapat membantu pihaknya dalam mengatasi bisnis haram yang berlokasi tepat diwilayahnya.
Bahka Cacuh bermimpi dapat menyulap kawasan GS menjadi sebuah rest area, dengan beragam fasilitas lengkap yang disediakan pihaknya nanti.
“Jadi walaupun GS hancur, tapi masayarakat sekitar tetap mendapatkan pemasukan dan miliki pekerjaan,” tutupnya dengan penuh harap.
(MTR/pojokjabar/izo)





