SUKABUMI – Puluhan mahasiswa dari sejumlah universitas kenamaan se-Indonesia akan mengembangkan wisata berbasis masyarakat di Kabupaten Sukabumi. Mereka adalah mahasiswa pilihan dari program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan dan Riset Teknologi (Kemendibud Ristek) RI.
Adalah Desa Wisata Nusantara Provinsi Jawa Barat bekerjasama dengan aplikasi travel berbasis android Pigijo yang ditunjuk sebagai pelaksana program tersebut.
“Ini adalah batch kedua. Kita fokuskan di tiga lokus desa wisata di Kabupaten Sukabumi,” kata Ketua Desa Wisata Nusantara Provinsi Jabar Agus Ramdhan kepada Radar Sukabumi, Senin (17/1).
Ketiga lokus desa wisata tersebut adalah Kampung Lahang yang berlokasi di Desa Gede Pangrango, Kecamatan Kadudampit. Kedua di Kampung Raden yang berlokasi di Desa Cisande, Kecamatan cicantayan. Dan ketiga, di Kampung Budaya Palapah, yang berada di Kecamatan Waluran. Pelaksanaan program magang MBKM selama 30 hari, dari tanggal 17 Januari sampai 15 Februari.
Agus menjelaskan, para mahasiswa tersebut akan melaksanakan pengembangan wisata berbasis pemberdayaan masyarakat. “Yang akan mereka lakukan nanti sesuai kurikulum dengan tujuan menciptakan daya tarik wisata. Yaitu penelitian, pemetaan, pendampingan, pembuatan paket wisata, promosi dan pemagangan. Jadi mereka akan menjadi tamu sekaligus tuan rumah di tiga desa wisata yang sudah ditunjuk,” papar Agus.
Lebih lanjut Agus menjelaskan, para mahasiswa tersebut nantinya juga akan diminta untuk membangun 5 unit homestay atau rumah singgah di tiga desa wisata. Sehingga total ada 15 homestay. Lebih detail lagi, soal pemilihan selimut, bantal, seprei hingga ornamen-ornamen yang menambah daya tarik dan daya jual homestay tersebut.
“Dan mereka juga akan terlibat bagaimana memastikan homestay-nya bersih dan nyaman. Nantinya, kita targetkan tarif satu homestay untuk satu malam seharga Rp150 ribu hingga Rp175 ribu. Sehingga wisatawan yang berkunjung ke Waluran, atau ke Lahang dan Cisande, mereka akan menginap di homestay sehingga terjadi perputaran ekonomi dari sektor desa wisata tersebut,” ungkap Agus.
“Selain homestay, jangan lupa kita juga ada homemade atau kerajinan tangan, kuliner dan lainnya. Jadi ada banyak potensi di Kabupaten Sukabumi yang harus kita kembangkan bersama-sama,” sambungnya.
Agus juga menyinggung bahwa Sukabumi memiliki destinasi wisata berskala internasional. Sebut saja seperti Suspension Bridge atau Jembatan Gantung Situ Gunung di Kadudampit serta Geopark Ciletuh. Belum lagi bangunan-bangunan cagar budaya atau heritage yang masih ada di Sukabumi baik kota dan kabupaten. Sehingga Agus mengharapkan program pemberdayaan wisata berbasis masyarakat MBKM ini, dapat menghadirkan perputaran ekonomi yang masif dan efektif di Sukabumi.
“Salah satunya ekonomi berbasis masyarakat ini bisa meningkatkan daya tarik wisata kita. Mudah-mudahan ke depan apa yang kami lakukan ini bisa menjadi embrio terbentuk destinasi-destinasi berbasis pemberdayaan masyarakat yang ada di Kabupaten Sukabumi,” tuntas Agus. (izo)




