Pertamina Sukabumi Pastikan Stok ‘Si Melon’ Aman

Pertamina-Sukabumi
Sales Brand Manager Pertamina Sukabumi, Andi Arifin saat meninjau salah satu SPBE di wilayah Sukabumi

SUKABUMI-– Harga gas elpiji atau liquified petroleum gas (LPG) mengalami kenaikan sejak akhir 27 Februari 2022 lalu. Harga gas elpiji yang naik adalah ukuran 5,5 kilogram dan 12 kilogram alias gas elpiji non subsidi.

Sedangkan harga gas elpiji 3 kilogram masih tetap karena mendapat subsidi pemerintah. Krnaikan harga gas Elpiji non subsidi ini dipicu lantaran mengikuti perkembangan terkini dari industri minyak dan gas.

Bacaan Lainnya

Tentunya kondisi kenaikan tersebut dikhawatirkan akan adanya migrasi penggunaan LPG dari yang sebelumnya memakai LPG non subsidi atau 5 Kilogram dan 12 kilogram menjadi ke LPG melon 3 kilogram.

Sales Brand Manager Pertamina Sukabumi, Andi Arifin mengatakan, pihaknya sudah jauh-jauh hari mengantisipasi hal tersebut dengan melakukan penambahan stok.

Terlebih, dalam beberapa pekan kedepan, masyarakat muslim akan menghadapi Ramadan, sehingga kebutuhannya pun mengalami peningkatan hingga dua kali lipat.

“Kenaikan gas non subsidi ini tidak mempengaruhi ketahan stok di kami, apalagi kita juga sudah siap menghadapi Ramadan yang biasanya mengalami peningkatan kebutuhan,” ujar Andi kepada Radar Sukabumi, belum lama ini.

Diakuinya, untuk penyalurannya pun terbilang aman, bahkan stok harian untuk wilayah Sukabumi mencapai 350 metrik ton, sementara penyaluran 200 matrik ton perhari.

“Kalau dihitung dengan jumlah stok tabung sekitar 90 ribu tabung perhari. Namun yang sekitar 60 ribu sampai 70 ribu tabung perhari atau setiap hari kita ada setting sekitar 20 ribuan tabung,” akunya.

Namun demikian, Andi berpesan, bagi para pengguna bright gas atau gas LPG no subsidi untuk lebih loyal lagi, sebab dari sisi fungsional pun bright gas lebih aman dan dari sisi stok pun lebih handal.

“Bagi masyarakat kalangan menengah ke atas sudah seharusnya menggunakan bright gas. Sebab LPG 3 kilogram ini peruntukannya bagi masyarakat menengah ke bawah,” katanya.

Disinggung soal monitoring penggunaan LPG non subsidi yang masih digunakan masyarakat kalangan menengah ke atas hingga digunakan para pengusaha rumah makan, pihaknya berencana akan melakukan koordinasi dengan dinas terkait.

Hal itu dilakukan untuk meminimalisir hal-hal yang tidak diinginkan dan lebih mendipisplikan pengunaan gas 3 kilogram bagi yang berhak menggunakannya. (cr1/t)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.