Pecahnya Bendungan Alami Citaman, Diduga Jadi Penyebab Banjir Bandang Cicurug

  • Whatsapp
EVAKUASI : Sejumlah tim gabungan pada saat membersihkan puing-puing yang terbawa banjir bandang di sungai cicatih yang menyumbat. (foto : Handi Radar Sukabumi)

SUKABUMI — Komandan Penanggulangan Darurat Bencana sekaligus Dandim 0607 Kota Sukabumi Letkol Inf Danang Prasetyo Wibowo menyebutkan berdasarkan hasil penelurusan tim gabungan ke hulu sungai cicatih, menemukan tumpuan atau bendungan curug alam citaman yang berdiameter 10 meter dengan kedalaman 2,5 meter. Diduga akibat pecahnya bendungan tersebut menimbulkan material batu dan bongkahan pohon terbawa ke aliran sungai cicatih.

“Berdasarkan penelurusan tim, di hulu sungai ada curug alami yang warga disana disebut curug citaman yang rusak, kemungkinan akibat pecahnya bendungan tersebut membawa material dan menutupi jembatan cibuntu hingga terjadilan banjir bandang, “jelas Danang

Bacaan Lainnya

Berdasarkan pemetaan, kenapa daerah Desa Pasawahan menjadi yang terparah terdampak. Hasil analisa akibat dari mampetnya jembatan yang ada di wilayah Desa Pasawahan. Namun saat ini petugas gabungan sudah berhasil membersihkan aliran sungan cicatih dan mengeruk agar tidak terjadi pedangkalan.

“Proses penyingkiran material longsor itu dilakukan sejak pagi hingga malam dengan menggunakan alat berat, sejumlah truk keluar masuk membawa puing dan batang pohon.Dan saat ini kondisinya sudah mulai terbuka akses air, “terangnya.

Sebelumnya, Banjir bandang menerjang wilayah Kecataman Cicurug, Kabupaten Sukabumi. Ratusan rumah terendam dan beberapa di antaranya mengalami kerusakan. Tiga orang hanyut dan dua di antaranya ditemukan dengan kondisi tidak bernyawa.

Ratusan personel TNI – Polri, tim SAR gabungan, BPBD dan relawan bergerak cepat ke lokasi kejadian. Posko evakuasi, layanan medis hingga dapur umum didirikan di sekitar lokasi sejak malam pertama peristiwa itu terjadi. (hnd)

Pos terkait

loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *