SUKABUMI — Sekira Pukul 03:30 WIB subuh, Muhammad Rafli (34) bersama teman-temannya saling membangunkan. Telihat masih mengantuk. Santri harus patuh aturan Pesantren. Kondisi itu berulang setiap hari di Pondok Pesantren Ponpes Al-Hikmah Al-Mahfudziyah Kampung Selaeurih, RT (03/07) Desa Selaawi, Kecamatan Sukaraja Kabupaten Sukabumi.
Meski saat itu libur sekolah. Santri tetap bangun pagi. Beberapa ada yang lansung mandi. Sebagian mencuci baju. Setengah jam berlalu tepat pada pukul 04.06 WIB salah seorang santri sudah berada di masjid. Giliran mengumandangkan Adzan Shubuh.
Sekitar 15 menit menunggu. Salat Shubuh berjamaah dimulai. Puluhan satri berjajar dibelakang imam. Ada sebagian yang terlambat. Setelah selesai shalat, mereka mengaji sampai datang fajar menyingsing sampai pukul 06:00 WIB.
Begitu selesai santri bergegas ke pondok untuk ganti pakaian. Saat itu memang hari Minggu. Sebagian ada jadwal mencuci baju. Tapi Muhammad Rafli dan sebagian temannya memilih untuk ke kebun Cabai. Bajunya kotornya sudah dicuci di Malam hari. Saat Pagi tinggal menjemur.
Sekitar pukul 07:00 WIB setelah menjemur baju dan sarapan pagi, Rafli bergegas ke kebun. Membawa alat cangkul dan Kored Sabit Rumput Baja. Diikuti oleh senior dan pembingbimnya. Tidak memerlukan waktu lama. Rafli sudah berada di kebun. Tidak menunggu perintah Rafli langsung bekerja membersihkan rumput disekitar cabai yang baru ditanam. Sebagian ada yang mencangkul.
“Ini rutin dilakukan pada saat hari libur, Santri sudah tidak lagi mengaji kitab kuning tapi bertani diajarkan disini. Tidak ada yang bertani tidak bisa makan kami, “cetus Rafli sambil membersihkan rumput.
“Saya dan teman-teman tidak setiap hari. Hanya sesekali saja, bisanya ada petugas khusus yang dibayar pesantren merawat kebun cabai ini. Tapi kami hanya membantu, “tambahnya.
Biasanya, para santri hanya bekerja sampai pukul 11.00 WIB. Karena harus mempersiapkan Shalat Dzuhur. Dalam proses merawat kebun para santri dibantu warga sekitar pesantren. Warga tidak segan mengajari santri cara bertani dengan baik.
“Kami hanya diajari dasar bertani. Tidak terlalu fokus lebih jauh mengurus kebun. Setidaknya sudah mengerti bagaimana cara bertani jadi bekal penting nanti saat kembali ke Kampung Halaman, “terangnya.
Pimpinan Pondok Pesantren Al-Hikmah Al-Mahfudziyah, Asep Saepul Alam menjelaskan, apa yang dilakukanya terhadap santri bagian dari pendidikan di Pesantren. Ponpes ingin menciptakan pesantren yang mandiri.
Tidak hanya berkebun cabai. Ponpes tersebut juga berkeinginan melakukan budi budidaya ikan air tawar seperti ikan nila, ikan koi dan lainnya. Itu semata untuk menjadikan santri siap pakai. Saat keluar tidak hanya jago mengaji, tapi jago bertani.
Kiayi Asep Saepul Alam tidak menyangkal dapat dukungan dari Bank Indonesia wilayah Jawa Barat (BI Jabar). Para santri di pondoknya bisa belajar bertani. Ilmu yang mempuni sangat berati bagi santri.
“Betul ponpes kami diberikan kepercayaan oleh Bank Indonesia wilayah Jawa Barat, tujuan untuk membantu pemerintah dalam menjaga ketahanan pangan,” jelasnya.
Diketahui, ketahanan pangan dicanangkan oleh pemerintah untuk menjamin ketersediaan pangan yang adil dan merata untuk masyarakat. Direspon dengan cepat Bank Indonesia Jawa Barat.
Ponpes Al-Hikmah Al-Mahfuziyah mulai menanam cabai pada bulan November 2022 dilahan seluas 700 meter persegi melalui bantuan Program Sosial Bank Indonesia (PSBI) untuk pembelian peralatan pertanian dan pengolahan produk hasil pertanian.
Hadirnya program Ekosistem Ketahanan Pangan Terintegrasi dalam High Level Meeting (HLM) Ekosistem Ketahanan Pangan Terintegrasi (Pangsi) Sukabumi Project West Java Economic Society 2022 adalah bukti.
Para santri seyogyanya tidak bisa terhindarkan dari dunia pertanian. Pertanian merupakan hajat hidup manusia di sepanjang usianya. Tidak ada tani bisa dibilang tak ada yang bisa dimakan. Dengan demikian pertanian harus terus lestari.
“Karena santri saat ini sudah serba instan. Makan sudah disediakan pondok, nyuci ada laundry. Nah kondisi ini menuntut pesantren untuk memupuk skill santri karena pada saatnya mereka akan kembali ke rumahnya masing-masing,”tambahnya.
“Santri dulu selalu siap saat kembali ke rumahnya, karena santri sebelum ngaji diajak kiainya ke sawah, diajak ke pasar dan seterusnya,” imbuhnya.
Santri memang harus serba bisa sebagai bekal kelak saat berjuang di tengah masyarakat. Pasalnya, kepercayaan masyarakat terhadap kemampuan santri terhadap dunia usaha masih lumayan minim. Untuk itu pesantren dan segenap unsur yang dimiliki juga harus memikirkan ini.
“Banyak yang masih meragukan jebolan dari pesantren. Mereka bisa apa. Ijazahnya tidak laku, life skillnya juga tidak punya. Makanya skill itu ajarkan pada santrinya,”ucapnya.
“Malam kita berdzikir dan pagi kita bertani. Setiap tanah di negeri kita ini sangatlah subur. Tanam apa saja bisa tumbuh dan menghasilkan dengan cepat,”tegasnya.
Direspon Pemkab Sukabumi
Wakil Bupati Iyos Soemantri merespon apa yang dilakukan Ponpes dengan mendidik santri jadi petani hal yang baik. Program Pangsi yang diluncurkan Bank Indonesia Wilayah Jawa Barat merupakan hasil kerja kolaboratif berbagai unsur di bidang pertanian dan hasil kerja nyata tersebut diyakini dapat menguatkan program ketahanan pangan.
“Kami mengapresiasi Bank Indonesia perwakilan Provinsi Jabar yang telah menjalin kerjasama dengan Pondok Pesantren Al-Hikmah Al-Mahfudziyah dan SMA AL-UMANAA, kelompok masyarakat serta kelompok tani untuk implementasi ekosistem PANGSI Sukabumi Project yang merupakan kerja kolaboratif untuk pengembangan sektor pangan terintegrasi di Kabupaten Sukabumi”jelas Iyos.
“Program ini sangat mulia yang dilakukan oleh BI, termasuk One Pesantren One Product (OPOP) Pangsi, Santripreuneur ini. Kita punya target besar untuk menurunkan angka stunting di Sukabumi. Dakarenakan wilayah kita angka stunting masih tinggi di angka ke 2 setelah Sumedang ke 1 diangka stunting tinggi. Melalui OPOP ini diharapkan dapat memberikan peningkatan untuk perekonomian masyarakat,” katanya.
Apa yang dilakukan Ponpes-ponpes yang dipercaya oleh Bank Indonesia wilayah Jawa barat harus dijadikan sebagai momentum untuk memacu semangat para petani, kelompok masyarakat sekitar dan para santri yang ikut terlibat dalam Ekosistem Pangsi ini agar lebih kreatif, maju, dan inovatif
“Ya tentu, saya berharap program ini benar-benar meningkatkan penghasilan baik bagi masyarakat, kelompok tani maupun pondok pesantren’ tambahnya.
Selain itu dirinya mengajak mengoptimalkan potensi dan peluang pertanian dengan melakukan percepatan olah tanah dan tanam sehingga sasaran produksi petanian dapat tercapai
“Kita berharap semua ikhtiar yang dilakukan dapat memberikan kontribusi positif yang berdaya ungkit kuat terhadap upaya pemerintah daerah demi terwujudnya Kabupaten Sukabumi Yang Religius, Maju Dan Inovatif Menuju Masyarakat Sejahtera Lahir Batin” pungkasnya.
Direktur Eksekutif Perwakilan BI Jawa Barat, Bambang Pramono menambahkan, Ponpes Al Hikmah Sukaraja ini adalah salah satu ponpes yang dipercaya. Program Pangsi merupakan penguatan ekonomi serta ketahanan pangan terintegrasi di Jabar.
“Selain ketahanan pangan, juga untuk mencegah stunting yang menjadi perhatian kita, Sehingga jumlah penderita stunting bisa berkurang,” tutur Bambang Pramono saat menghadiri Panen cabe di Ponpes Al Hikmah pada Maret 2023 lalu.
Lebih lanjut dia menambahkan, untuk di wilayah Sukabumi ada 11 pondok pesantren yang dibantu oleh Bank Indonesia Jawa Barat, Sementara, untuk lahan pertanian cabai di wilayah Ponpes Al-Hikmah mereka kenakan cabai seluas 0,5 hektare.
“Insyaallah Kedepannya, berharap bisa buat cabai olahan. Bahkan, bisa dikombinasikan dengan olahan ikan. Dalam hal ini, sangat bagus untuk program stunting seperti yang dikatakan oleh Pak Wakil Bupati,”tambahnya.
Ditempat terpisah, Kepala Bank Indonesia Jabar, Herawanto saat konferensi pers yang digelar secara virtual menyebutkan Ke depannya, ekosistem Pangsi ini diharapkan akan menjadi kunci dalam mengolah isu-isu ketahanan pangan yang ada di tiap daerah di Jawa Barat.
“Tentu harapannya Pangsi ini bisa berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi dan pengendalian inflasi,” kata Herawanto,”saat konferensi pers yang digelar secara virtual.
Lebih lanjut Herawanto menjelaskan, ekosistem pangsi ini bisa diakses sekaligus dimanfaatkan bagi sejumlah pelaku ekonomi seperti kelompok-kelompok tani, dan kelompok masyarakat yang berfokus pada sisi hulu produk pertanian, perikanan budidaya, perikanan tangkap, hingga pembenihan dan pembibitan.
“Selain kelompok-kelompok usaha yang ada di Sukabumi, juga menyokong pada beberapa pondok pesantren baik di Kabupaten maupun Kota Sukabumi, sehingga menjadi suatu ekosistem penting untuk kita segera jalankan, dan bisa direplikasi di berbagai tempat,” jelas Herawanto.
“Pangsi ini kan memang melibatkan banyak sektor, diantaranya seperti pertanian, agro pertanian, perikanan, atau pertanian hortikultura, dan ini juga berpeluang untuk dikombinasikan dengan pengembangan desa wisata,” tutur Herawanto.
Masyarakat pun diharapkan mulai mempunyai kesadaran untuk melakukan optimalisasi terhadap potensi wilayahnya. Tinggal persoalannya, apa komoditas yang bisa dijadikan andalan sehingga program Pangsi diharapkan bisa menjadi solusi,”tukasnya. (hnd)






