Bagi orang tua, situasi ini menjadi mimpi buruk harian. Popi (35), warga Desa Tanjungsari, harus bolak-balik menyeberangi sungai demi memastikan anaknya selamat pergi dan pulang sekolah. Jika perahu tak beroperasi, ia terpaksa menempuh jalur alternatif melalui area PT Siam Cement Group (SCG) yang jaraknya tiga kali lipat lebih jauh.
“Kalau lewat sana mutarnya jauh sekali. Suami saya yang bekerja dengan motor terpaksa lewat jalur itu setiap hari,” keluhnya.
Hingga berita ini diturunkan, warga masih bergantung pada perahu karet BPBD. Namun di tengah cuaca ekstrem yang terus menghantui Sukabumi, keselamatan para pelajar tetap berada di ujung tanduk.(den/t)






