SUKARAJA – Nasib memilukan menimpa keluarga Pak Uyan (56) asal warga Kampung Nagrak, RT 02/RW 08, Desa Cisarua, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Sukabumi. Bagaiamana tidak, Pak Uyan yang sudah belasan tahun mengidap penyakit stroke dan anak bungsunya bernama Reni Nuraeni (19) yang di vonis penyakit kista itu, tinggal di rumah tidak layak huni (Rutilahu).
Salah seorang Kampung Nagrak, RT 02/RW 08, Desa Cisarua, Kecamatan Sukaraja, Enur (44) kepada Radar Sukabumi mengatakan, pihaknya mengaku prihatin melihat kondisi kesehatan Pak Uyan. Setiap harinya, Pak Uyan hanya terkulai lemas di tempat tidur karena mengalami penyakit stroke.
“Pak Uyan itu, sudah ada sekitar 11 tahun mengalami penyakit stroke itu. Untuk makan saja, ia hanya mengandalkan istrinya,” kata Enur kepada Radar Sukabumi pada Selasa (16/05).
Menurut Enur, Pak Uyan tersebut sempat dibawa berobat ke Rumah Sakit Hermina Sukaraja oleh kader desa setempat untuk dilakukan rongen pada Januari 2023 lalu. “Nah, seminggu kemudian saat mahu ngambil hasil rongen itu, kata orang desa tidak bisa. Karena, mobilnya lagi di pakai,” ujarnya.
Selain itu, kondisi bangunan rumah yang mereka tempati dinilai tidak layak huni. Lantaran, bangunan rumah yang terbuat dari anyaman bambu itu, kondisinya sangat mengkhawatirkan. Selain banyak genting yang bocor, juga kayu penyangganya sudah lapuk. Sehingga, saat hujan turun, air dapat terjun bebas memasuki ruangan rumah tersebut. “Kalau hujan, pasti banyak wadah yang berjejer di rumah Pak Uyan itu,” imbuhnya.
Keluarga Pak Uyan tidak bisa berbuat banyak dan hanya bisa pasrah dengan kondisi kesehatan dan rumahnya yang tidak layak huni tersebut. Keterbatasan ekonomi, merupakan salah satu faktor penyebab keluarga tersebut, tidak bisa membawa Pak Uyan untuk berobat atau mendapatkan pelayanan medis.
“Pak Uyan itu, memiliki tiga anak. Dari tiga anak ini, dua sudah berkeluarga sementara anak terakhirnya mengalami sakit kista yang bernama Reni Nuraeni (19),” imbuhnya.
Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, Pak Uyan hanya mengandalkan istrinya bernama Ipah (48) yang bekerja sebagai tukang gosok pakaian di perumahan Setia Budi Sukaraja. “Per harinya, istri Pak Uyan itu, hanya mendapatkan upah sebesar Rp40 ribu sebagai tukang gosok pakaian. Iya, jangankan untuk membawa berobat suami dan anaknya, untuk memenuhi makan saja, mereka itu, kasihan,” tandasnya.
Untuk itu, ia bersama warga lainnya berharap kepada pemerintah setempat untuk dapat peduli terhadap warga miskin yang berada di wilayah tersebut. Karena selain mengidap penyakit stroke, rumah yang mereka tinggal pun dinilai tidak layak huni. “Mudah-mudahan ada bantuan dari pemerintah atau orang dermawan yang peduli untuk membantu keluarga Pak Uyan ini,” timpalnya.






