Rasa frustasi tentunya sesekali hinggap. Bukan hanya karena faktor materi, rasa jenuh juga muncul karena ketika teman-teman sebaya bermain, ia bersama teman-teman atlet lainnya harus terus berkutat dengan latihan setiap harinya. Bahkan, saking beratnya latihan yang dijalankan, kulit para Srikandi Sukabumi ini harus menghitam dan tangan mengeras seperti lelaki. Tapi, itu tidak membuat semangat mereka menciut.
Momen yang ditunggu-tunggu pun akhirnya datang. Pada tahun 2015, mereka mempunyai kesempatan untuk membuktikan diri dengan ikut kejuaran dunia pertamanya. Kebetulan, kejuaraanya itu diadakan di Sungai Citarik Sukabumi yang menjadi tempat mereka berlatih mengasah kemampuannya.
“Nah waktu itu, tim kami menjadi perwakilan dan Alhamdulillah hasilnya tidak begitu buruk. Dimana, kami berhasil meraih satu emas dari kategori Down River Race (DRR) atau Kategori Jarak Jauh. Nah dari sana, saya dan teman-teman semakin termotivasi untuk sering latihan,” jelas Lista sambil diamini teman-temanya yang lain.
Raihan emas perdana itu tentunya bukan didapat dengan cuma-cuma. Ia bersama teman-temanya harus berlatih selama satu tahun penuh sebelum kejuaran itu diikuti. Saat hari Senin, latihan sejak pulang sekolah hingga Mahgrib tiba. Sedangkan pada hari libur dari pagi hingga sore.
Namun, dorongan dari orang terdekat membuat semangat latihan terus bergelora meski dalam keterbatasan. Kemudian pada tahun 2017, tim JRT meraih kembali membuktikan dirinya dengan mendapat peringkat ketiga dunia pada kejuaraan yang digelar di Jepang.
Kemudian, raihan itu disempurnakan pada tahun ini. Srikandi Sukabumi ini mampu meraih gelar juara dunia di World Rafting Championship (WRC) 2019 di Australia. Bahkan, mereka menjadi juara umum di kejuaraan bergengsi tersebut dengan dua medali emas dari nomor kategori sprint dan slalom. Satu medali perak dari nomor kategori head to head. Terakhir, satu medali perunggu diraih dari nomor kategori Down River Race (DRR).
Tentunya dengan prestasi itu, mereka mampu membuktikan diri dari orang-orang yang selama ini memandang sebelah mata akan olahraga arum jeram dan timnya. Apalagi, timnya hanya dihuni oleh wanita-wanita yang masih belia.
“Ya awalnya saya takut waktu pertama kali mencoba olahraga ini. Ayah saya sejak kecil mengajak saya, namun tak pernah mau. Baru kelas IX SMP, saya memberikan diri, dan berlanjut sampai sekarang,” cetusnya.






