BERITA UTAMA

Marwan Robohkan Dua Rutilahu Jompo

SUKABUMI – Kondisi rumah tidak layak huni (Rutilahu) masih banyak ditemukan di wilayah Kabupaten Sukabumi. Hal ini, dapat terbukti saat Bupati Sukabumi, Marwan Hamami mendapatkan informasi terkait dua rumah reot yang dihuni jompo dari komunutas trail yang kebetulan satu hoby dengannya.

Setelah mendapatkan informasi tersebut, orang nomor satu di Kabupaten Sukabumi ini, langsung bergegas ke lokasi rumah jompo yang berada di Kampung Lamping, RT 2/9, Desa Tanjungsari, Kecamatan Jampangtengah didampingi Danyon 310 dan Danyon Armed 13 serta komunitas trail.

Setiba di lokasi, Marwan Hamami dan anggota TNI serta komunitas trail langsung merobohkan Rutilah milik dua orang jompo tersebut. Rencananya rumah tersebut akan dibangun oleh perseonel TNI dan komunitas trail.

“Saya sangat mengapresiasi langkah yang dilakukan komunitas trail ini dan berharap hal tersebut menjadi contoh bagi komunitas lainnya. Untuk itu, nanti akan ada program di desa melalui ADD untuk rutilahu, kita dorong setiap desa itu minimal lima rumah tapi dengan gotong royong di bantu masyarakat,” kata Marwan kepada Radar Sukabumi, Minggu (14/6).

Lebih lanjut ia menjelaskan, di Kabupaten Sukabumi ini terdapat data sebanyak 34 ribu rutilahu di wilayah yang tengah dipimpinnya itu.

“Awal data rutilahu sekitar 34 ribu, harusnya jika di akumulasikan dari intervensi bantuan pemerintah rata rata 10 ribu pertahun dalam 4 tahun ini harusnya sudah beres. Namun ternyata jumlah rutilahu terus bertambah sehingga masih banyak yang perlu kita bantu,” ujarnya.

Menurutnya, dalam satu tahun pembangunan Rutilahu yang di intervensi pemerintah Kabupaten Sukabumi sekitar 7000 – 10. 000 Rutilahu.

“Untuk menyelesaikan persoalan ini, maka kita harus bersama-sama membangun. Iya, siapapun yang memiliki harta lebih atau kesempatan untuk bisa berabagi mari kita lakukan bersama-sama. Salah satunya komunitas trail ini,” paparnya.

Salah seorang jompo tuna netra, Mak Inah (70) warga Kampung Lamping, RT 2/9, Desa Tanjungsari, Kecamatan Jampangtengah, telah bertahan hidup dengan serba kekurangan di rumah reot.

Pada beberapa waktu lalu warga menurunkan genting atap rumahnya dan inah terpaksa tingal di rumah tetanganya yang kebetulan masih kerabat. Hal ini, dilakukan lantaran warga merasa khawatir gubuk yang dihuni nenek jompo tersebut, ambruk dan menimpa Mak Inah.

Untuk mencukupi kebutuhan hidupnya, ia hanya mengandalkan bantuan tetangganya yang masih berbaik hati di bantu oleh kerabatnya.

“Ema tos teu tiasa kamana mana ngan ukur tiasa nyeseuh, nyampaikeun ge tos teu tiasa, sabodo barudak we, (emak sudah tidak bisa kemana-mana cuma bisa cuci baju, menjemur juga sudah tidak bisa, gimana anak anak saja),” lirih Mak Inah. (den/d)

Tags
loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button