Setelah itu, ia melihat ada potensi bencana longsor. Maka, ia langsung menginstruksikan kepada warga yang lokasinya berada di bawah tebing rumpun bambu, untuk segera mengevakuasi keluarganya ke tempat lebih aman.
“Iya, karena ada lebih dari 10 rumah yang terancam longsor dan diharuskan harus segera keluar rumah untuk mengungsi dan Alhamdulillah semuanya sudah keluar,” ujarnya.
“Sehingga saat kejadian tepat pukul 06.30 WIB terjadi longsor,” paparnya.
Masih kata Abeng, bencana tanah longsor tersebut terjadi secara bertahap. Karena tanah dari tebing tersebut masih terhalang oleh pepohonan rumpun bambu. Meski demikian, sampai saat ini pergerakan tanah masih tetap terjadi dan rumah warga yang tertimbun hingga pukul 10.00 WIB sudah ada 10 rumah.
“Nah, di bawah yang satu arah dengan longsoran itu, ada 4 rumah yang terancam dan masih berdiri. Nah, saat ini kami khawatir terjadi longsor susulan karena tanahnya masih terus bergerak,” tandasnya.
Dari 10 rumah yang tertimbun longsor itu, jelas Abeng, untuk sementara telah dievakuasi ke rumah saudara dan tetangg terdekatnya yang lebih aman dari ancaman bencana alam itu. “Karena kami mengutamakan keselamatan jiwa daripada harta benda yang lainnya. Alhamdulillah tidak ada korban jiwa,” tukasnya.
Saat mengetahui bencana tanah longsor itu, ia mengaku langsung menghubungi pemerintah kecamatan, pihak kepolisian dan kini BPBD juga sudah hadir di lokasi untuk memonitor perkembangan tanah longsor tersebut. Namun demikian, petugas gabungan saat ini belum bisa mengevakuasi secara optimal.
Karena, kondisi tanahnya masih terus bergerak dan dikhawatirkan ada longsor susulan sehingga menimbulkan adanya korban jiwa.






