Sementara itu, warga Babakan Cisarua hanya berharap kepastian. Ratih, salah satu korban, masih menumpang di rumah saudara. Trauma belum hilang, rasa takut selalu datang setiap hujan turun. “Kita itu sudah kayak orang stres. Setiap hujan enggak pernah tidur nyenyak,” ungkapnya.
Ratih mengenang detik-detik banjir bandang yang menghancurkan rumahnya. “Saya cuma mikir gimana caranya nyelamatin anak-anak. Rumah permanen hanyut begitu saja,” ujarnya lirih.
Dengan mata berkaca-kaca, Ratih menyampaikan harapan kepada Gubernur. “Tolonglah Pak Dedi, kami sudah satu tahun menunggu. Kami ingin relokasi, jangan terlalu lama lagi,” pintanya.(ndi/d)






