Kasus Dua Remaja Sukabumi Dijual ke Laos Ditangani Mabes Polri

Pedagangan orang yang merupakan Warga Sukabumi di Laos.
Situasi terkini Korban Pedagangan orang yang merupakan Warga Sukabumi di Laos. (Foto : ist)

SUKABUMI — Dua warga Kota dan Kabupaten Sukabumi menjadi korban kasus Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO). Keduanya diketahui, bernama Gera Gelora AB (29) asal warga Jalan Cikiray Rambay, RT (04/02), Desa Sukamanah, Kecamatan Cisaat dan A (28) warga Citamiang, Kota Sukabumi menjadi korban human trafficking ke Negara Laos.

Ketua Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) Jawa Barat, Jejen Nurjanah kepada Radar Sukabumi mengatakan, pihaknya mengaku bawha, SBMI Jawa Barat belum menerima laporan secara resmi terkait asal warga Kecamatan Cisaat yang menjadi korban TPPO ke Negara Laos.

Bacaan Lainnya

“Namun, berdasarkan rapat koordinasi SBMI Jawa Barat bersama International Organization for Migration (IOM) di Bogor kemarin, bahwa kasus TPPO asal warga Cisaat ke Negara Laos itu, kini sudah ditangani oleh Mabes Polri,” kata Jejen Nurjanah kepada Radar Sukabumi pada Kamis (18/08).

Sewaktu ia melakukan rapat koordinasi bersama IOM, sambung Jejen, warga yang menjadi korban TPPO ke Negara Laos ini, bukan hanya warga Kecamatan Cisaat saja. Tetapi, ada satu korban lagi yang merupakan teman Gera asal warga Kecamatan Citamiang, Kota Sukabumi yang menjadi korban human trafficking di negara tersebut.

“Memang ditangani oleh Mabes Polri dan yang mendampinginya langsung oleh Migran Care. Karena kasusnya sama, makanya ditangani langsung oleh satu lembaga itu,” paparnya.

Ketika disinggung mengenai kronologis alasan kenapa mereka bisa menjadi korban TPPO ke Negara Laos. Dirinya, menjawab tidak mengetahui secara rinci dan jelas. Sebab, hingga saat ini SBMI Jawa Barat belum menerima laporan kasus tersebut secara resmi.

Namun, demikian berdasarkan rapat koordinasi dengan IOM, mereka itu tergiur oleh penghasilan yang besar dengan bekerja di luar negeri. Sehingga mereka memberanikan diri untuk bekerja ke luar negeri. Namun, sebelum dipekerjakan mereka telah dikabarkan disekap di sebuah apartemen di negara Laos.

“Kalau informasi awalnya, mereka itu dijanjikan bekerja di salah satu perusahaan di negara Thailand melalui salah seorang penyalur kerja yang dikenalnya di Sukabumi dengan upah sekitar sebesar 1000 dolar. Tapi untuk kronologis pastinya kami masih ditelaah iya. Namun alangkah baiknya, keluarga korban yang di Sukabumi ini membuat laporan baik ke Polres maupun ke SBMI atau ke gugus tugas, supaya ada kekuatan. Iya, intinya kalau ada laporan secara remsi kita juga bisa mendorong untuk membuat pengaduan ke Kemenlu,” tandasnya.

Sementara itu, Camat Cisaat, Yudi Mulyadi kepada Radar Sukabumi mengatakan, pihaknya belum mengetahui secara pasti soal salah satu warganya yang menjadi korban human trafficking di luar negeri. Sebab, ia mengaku bahwa pemerintah Kecamatan Cisaat baru mendapatkan informasi tersebut kemarin pada Rabu (17/08).

“Kita sudah koordinasi dengna pemerintah desa dan saat ini mereka sedang melakukan pengecekan ke rumah keluarganya. Ini perlu kita lakukan untuk memastikan kebenaranya. Untuk modusnya sendiri saya tidak tahu bagaimana awal-awalnya. Namun karena itu tertipu saya sangat menyesalkan dan semoga ini bisa mengambil hikmahnya agar masyarakat kita, jika hendak berniat bekerja ke luar negeri, bisa berkoordinasi dengan pemerintah dulu ke mana lokasi tujuan, bagaimana pekerjaan dan seperti apa prosedurnya. Iya, jangan seperti ini kasian kan kalau sudah tertipu,” pungkasnya.

Sementara itu, keluarga korban Human Trafficking A asal Kota Sukabumi sudah melakukan laporan ke pihak Kepolisian Resort Kota Sukabumi. Kamis (18/8/2022).

Ketua RT Eneng Nani,  mengatakan jika sekitar tanggal 15 ia beserta Ibu dari A melakukan komunikasi lewat sambungan Whatsaap. Ia membenarkan, A  saat ini berada di Laos dan diduga menjadi korban human Trafficking.

Pos terkait