Kapan Pelajar Sukabumi Berdamai, Semua Harus Duduk Bersama

Tawuran-Pelajar-Sukabumi

SUKABUMI – Aksi tawuran pelajar mewarnai jelang Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB). Tercatat dalam lima bulan terakhir, ada beberapa kejadian aksi tak terpuji para pelajar di Sukabumi.

Terbaru, beredar video di media sosial aksi tawuran siswa antar sekolah yang dilakukan di tengah-tengah lintasan kereta api. Dari video yang terlihat, para siswa saling beradu dan mengacungkan senjata. Tak berselang lama, para pelajar ini terlihat lari kocar-kacir ke berbagai arah.

Bacaan Lainnya

Potongan video yang berdurasi sekitar 22 detik itu menggunakan backsound lagu Alan Walker. Insiden terjadi, pada Selasa (31/5) sekitar pukul 16.30 WIB di Kecamatan Cisaat, Kabupaten Sukabumi. Setelah viral di media sosial, jajaran Polsek Cisaat langsug mengambil tindakan untuk melakukan pembinaan dan penyuluhan kepada para pelajar pada Kamis (2/6).

Kapolsek Cisaat, Kompol Rusmadi menjelaskan, menyikapi kejadian yang sempat viral itu, pihaknya mengambil sikap dengan melakukan pembinaan dan penyuluhan terhadap para pelajar yang sekolahnya berada di wilayah hukum Polsek Cisaat.

“Kami tadi melakukan penyuluhan kepada para siswa di SMK Teknika Cisaat, agar mereka tidak terjerumus untuk turut serta tawuran,” kata Rusmadi kepada wartawan, Kamis (2/6).

Dalam kesempatan tersebut, Polsek Cisaat juga menerangkan kepada para siswa tentang kerugian yang akan mereka dapatkan jika turut serta melakukan aksi tawuran.

“Tadi kami berikan pemahaman jika mereka masih turut serta melakukan tawuran, kerugian apa saja yang akan mereka terima, baik itu sanksi yang diberikan sekolah, ataupun kerugian dari segi materi, bahkan jika mereka turut menjadi korban,” jelasnya.

Selain itu, Rusmadi juga meminta kepada pihak sekolah untuk lebih intensif kembali dalam melakukan pengawasan terhadap peserta didiknya. “Bukan hanya pihak sekolah, orang tua ataupun keluarga juga harus lebih aware kembali dalam memperhatikan anaknya.

Jangan sampai nantinya menyesal dikemudian hari akibat kelalaian pengawasan yang terjadi,” pinta Ruswandi.

Ia mengimbauan pelajar agar tidak terbujuk rayuan teman yang tidak benar, apalagi sampai ikutan menjadi anggota geng motor. “Kami menyampaikan bahwasanya saat ini geng motor sedang dibrantas oleh pihak kepolisian diseluruh daerah.

Makanya, kami meminta kepada para siswa untuk tidak terlibat, dan jika ada yang mengetahui rencana aksi maupun pergerakan geng motor, bisa segera laporkan kepada petugas terkait,” pungkasnya.

Aksi tawuran pelajar juga terjadi pasca pengumuman hasil Ujian Nasional (UN) di Sukabumi. Bermula aksi corat-coret, konvoi kendaraan roda dua tanpa menggunakan helm, para pelajar ini pun berujung tawuran dengan sekolah lain.

Puluhan pelajar dari tiga sekolah menengah kejuruan (SMK) ini terpaksa harus diamankan petugas Polsek Ciemas, Polres Sukabumi. Lantaran, ia ketangkap basah oleh petugas kepolisian untuk melakukan tawuran pelajar.

Kapolsek Ciemas, Iptu Azhar Sunandar kepada Radar Sukabumi mengatakan, sebanyak 35 pelajar SMK yang berasal dari tiga kecamatan berbeda di Kabupaten Sukabumi diamankan. Yakni, Kecamatan Surade, Kecamatan Waluran dan Kecamatan Ciracap. Mereka pun telah diberikan pembinaan lantaran berniat melakukan tawuran.

“Mereka itu kami amankan pada Rabu (01/06) sekira pukul 16.15 WIB di Jalan Raya Kampung Ranca Genjer, Desa Mekarsakti Kecamatan Ciemas,” kata Azhar Sunandar kepada Radar Sukabumi pada Kamis (02/06).

Puluhan pelajar ini, terpaksa diamankan petugas kepolisian untuk mencegah terjadinya tawuran pelajar. Untuk itu, setelah diamankan dan dilakukan pemeriksaan di TKP, petugas kepolisian juga menemukan satu buah senjata tajam yang dibawa oleh salah satu pelajar dalam rombongan tersebut.

“Kami akan melakukan pembinaan kepada puluhan pelajar tersebut dengan melibatkan pihak sekolah dan memanggil para orang tua dari para pelajar SMK itu,” paparnya.

Dari puluhan pelajar ini, terdapat tiga orang pelajar masing-masing berinisial R, AM dan AS yang akan dilakukan pemeriksaan lebih lanjut terkait kepemilikan senjata tajam jenis clurit yang ditemukan pada saat konvoi dihentikan dirinya bersama anggota Polsek Ciemas. ” Untuk pelajar terkait kepemilikan sajam, kami akan periksa lebih lanjut,” tandasnya.

Polsek-Cisaat
PEMBINAAN: Sejumlah personel Polsek Cisaat melakukan pembinaan kepada pelajar di wilayah hukumnya, Kamis (2/6).

 

Semua Harus Duduk Bersama

Pengamat Pendidikan Sukabumi, Asep Deni menilai tawuran pelajar yang belakangan ini kembali marak itu tidak berdiri sendiri. Karena banyak faktor penyebabnya. Diantaranya, karena masalah internal keluarga yang tidak bisa memberikan rasa aman dan nyaman terhadap anak. “Selain itu, bisa juga karena lingkungan sosialnya dimana mereka bermain dan berkumpul bersama dengan teman-temannya,” ucapnya.

Selain itu, tawuran pelajar ini juga karena sekolah kurang memberikan ruang kreasi terhadap anak. Bukan hanya itu, kondisi pendidikan yang tempo hari dilakukan daring dan kini sudah bisa dilakukan dengan cara tatap muka, juga menjadi salah satu penyebab terjadinya tawuran pelajar.

“Mereka merasa ada ruang baru untuk melampiaskan selama ini berada di dalam aturan yang sangat ketat. Sehingga, saat belajar tatap muka mereka melakukan hal tidak terpuji,” tandasnya.

Selain itu, mereka juga tengah mencari jati diri. Namun dalam mencari jati dirinya tidak baik. Karena melakukan tindakan yang merugikan semua pihak. Baik untuk dirinya, maupun masyarakat secara umum. Bahkan, hingga sampai berani melalukan tindakan kriminal. Untuk itu, dalam penanganannya juga harus dilakukan bersama-sama dan tidak bisa dilalukan oleh pihak sekolah saja.

“Makanya, apabila ada peristiwa tawuran pelajar, tidak bisa hanya menyalahkan sekolah saja. Karena lingkungan yang menjadi tempat tinggal pertama anak, dalam hal ini keluarga sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan anak dalam hal sikap dan karakternya,” timpalnya.

Pihaknya menambahkan, apabila mereka dalam tindakannya dapat mengganggu ketentraman dan ketertiban secara umum, maka mereka harus dilakukan tindakan refrenship dan tindakan penyadaran kepada mereka untuk bisa kembali pada fungsi belajarnya. “Intinya, keluarga, lingkungan sosial dan sekolah harus peduli terhadap anak,” pungkasnya.

Sementara itu, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Sukabumi mempersiapkan langkah-langkah antisipasi untuk menghindari aksi tidak terpuji tersebut terjadi lagi. Terlebih di masa libur sekolah menjelang tahun ajaran baru 2022.

Kepala Disdikbud Kota Sukabumi, Mohammad Hasan Asari mengatakan, pihaknya sudah memanggil kepala sekolah SMP negeri dan swasta untuk membahas berbagai langkah antisipasi.

“Ada eforia dari anak-anak sekolah ketika PTMT 100 persen mulai dilaksanakan. Kemudian ujian sekolah juga sudah selesai sampai ada jeda waktu menunggu perpisahan sekolah. Maka di momen ini, dari sisi tingkat kerawawnan harus diantisipasi sehingga pada saat ada kesempatan kita tetap mampu mengendalikan situasi kondisi yang tidak diinginkan seperti misalnya tawuran antar pelajar atau genk motor,” terangnya.

Langkah pertama yang dilakukan Disdikbud menyiapkan persoalan tersebut yaitu sekolah dihimbau untuk melakukan aktivitas untuk kelas terakhir yaitu kelas 6 SD dan kelas 9 SMP di sekolahnya. Misalnya kegiatan meetingclass atau school meeting ataupun kegiatan positif lainnya yang diadakan di sekolah.

Langkah kedua sebagai antisipasi kenakalan remaja yaitu semua kepala sekolah memberikan atau membuat surat edaran tentang permohonan bantuan pengawasan orang tua terhadap aktivitas anaknya di luar sekolah. Langkhah ketiga yaitu berkolaborasi dan bekerjasama dengan polsek setempat dan Binmas di kepolisian untuk mengantisipasi dan memberikan pengarahan agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

“Tiga hal tersebutlah yang kita tempuh dan kita sosialisasikan kepada kepala sekolah. Walaupun kemarin yang terlibat tawuran itu sebenarnya bukan wilayah kewenangan kami, melainkan wilayah Disdik Provinsi Jawa Barat. Karena pelaku adalah siswa SMA dan SMK. Untuk SMP, SD dan PAUD itu baru wilayah Disdikbud Kota Sukabumi. Tetapi agar itu tidak terjadi di pelajar SMP, jadi kita bergerak cepat dengan melakukan langkah-langkah antisipasi yang tadi disampaikan,” jelasnya.

Dengan adanya kolaborasi pengawasan dari pihak (Polsek dan orang tua), diharapkan aksi tawuran yang kerap terjadi dapat berkurang dan berdampak kondusif sampai pada tahun ajaran baru nantinya. Hal tersebut juga telah disampaikan kepada pihak sekolah.

Ditegaskan Hasan, bagi siswa yang kedapatan tawuran tentunya ada sanksi tegas dari pihak sekolah, mulai dari skorsing ataupun dipindahkan ke lingkungan yang lebih memungkinkan dia untuk berkembang lebih baik.

“Jelas ada sanksi tegas, tidak hanya yang tertangkap tawuran saja, tetapi juga aksi kenakalan remaja lainnya misalnya ikut geng motor. Tetapi untuk sanksi itu, kembali ke sekolah mulai dari warning atau memang nanti dia dipindahkan ke lingkungan baru (DO, red),” pungkasnya.(den/bam/wdy)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan