Sistem didalamnya Menggambarkan Pesantren berskala internasional. Ada program usaha unggulan yang dijalankan. Pendidikan, bidang perdagangan, pertanian dan peternakan. Bagi calon santri cukup membayar 3.000 Dolar atau Rp45 Juta saat ini. Itu berfungsi untuk 6 tahun selama menjadi Santri.
Dana Rp45 juta cukup mendapatkan hampir semua kebutuhan selama studinya, mulai dari konsumsi makan minum, seragam sekolah, akomodasi asrama, buku pelajaran berdasarkan kurikulum yang berlaku.
Selama tinggal di asrama, para siswa harus mentaati peraturan-peraturan yang telah ditetapkan. Masuk jam istirahat santri tidak boleh keluar. Makanan kantin disiapkan didalam kelas. Demikian pula jam malam. Setelah jam 10 malam, semuanya lampu harus dimatikan.
Santri yang keluar dan datang wajib Tes Narkoba. Kalau Positif langsung diusir. Selain itu, Al-Zaytun melarang semua Penghui merokok. Syarat tidak merokok sudah menjadi salah satu syarat yang berlaku bagi semua mahasiswa dan karyawan bahkan pegunjung.
Cukup Disiplin. Bahkan didalam diciptakan polisi Lalu-lintas dan keamanan pos. Tidak boleh melanggar.Sistem administrasi modern. Itu semua merupakan potret keseriusan Ponpes Al-Zaytun.
Selain itu, ada berbagai industri seperti pembuatan susu, tahu dan industri tempe. Industri pengolahan makanan. Industri pengolahan pakan ternak, pabrik beras, pengolahan garam beryodium tanaman, percetakan, toko serba ada (department store), kantin umum, warung telepon (kios), kios pos hingga Bank Jabar dan BRI ada, bahkan Barber Shop tersedia.
Lahan seluas 1.300 hektar di Al-Zaytun digunakan sebagai kawasan pengembangan peternakan, seperti peternakan jenis domba, sapi potong, sapi perah, unggas, dan jenis hewan lainnya.
Di atas tanah itut juga berdiri bangunan-bangunan seperti gedung peternakan sapi perah dan sapi potong, kambing perah dan sapi potong kambing, rusa, kuda dan itik hingga budidaya ikan air tawar tersedia.
Lalu kemudian lahan pertanian ditanami tanaman komersial yaitu jati mas, jagung mansi, sorgum, jeruk garut, mangga, rumput rumput raja, dan semua pohon buah-buahan yang baik dan tanaman keras dari seluruh provinsi di Indonesia. Sementara itu, untuk mengantisipasi kebutuhan kayu ditanam pohon jati.
Untuk Kebutuhan beras dipenuhi secara swadaya dengan menanam padi. Kebutuhan Nasi Al-Zaytun rata-rata 4,5-5 ton per hari dengan surplus antara 12-15 ton per hari yang kemudian dijual ke pasar.
Didalam juga dibuat Danau buatan. Dibuat untuk mengantisipasi kebutuhan air dan musim kemarau. Empat danau buatan berukuran 100 x 100 m2 dengan kedalaman 6 meter dan 1 danau seluas 7 hektar yang disiapkan untuk olahraga air.
Air yang disimpan digunakan untuk kepentingan asrama dan irigasi seluas 30 ha telah dikonsolidasikan. Sehingga wilayah ponpes ini tidak akan menjadi kekeringan di musim kemarau dan musim hujan tidak banjir.
Untuk asrama, mahasiswa tinggal di asrama (Residence Halls) yang telah disediakan. Di asrama masing-masing terdapat ruangan berukuram 72 170 meter persegi yang ditempati oleh 10 siswa/mahasiswa, ruangan tersebut dilengkapi dengan lemari pakaian, meja rapat, kasur beserta tempat tidur untuk 10 orang, kamar mandi dan toilet 3 unit, ruang perpustakaan berisi buku-buku pelajaran.
Bangunan asrama didukung dengan berbagai fasilitas yang terdiri dari restoran, dapur, dan laundry. Untuk setiap unit asrama memiliki ruang makan berkapasitas 2.000 mahasiswa makan sekaligus dan sudah dibangun tiga ruang makan. Gedung serbaguna dengan nama gedung Al-Akbar terdiri dari dua lantai gedung. Ruang makan lantai 1 dan 3 yang menyatukan siswa dan lantai 2 untuk ruang serbaguna.
Pada akhirnya, saya menduga ini hanya bagian dari dinamika dijalur bawah tanah. Yang bermasalah sekarang itu penyelenggaran negara dengan Korupsinya, bukan penyelenggara Agama secara utuh, karena saya yakin tidak semua Santrinya setuju dengan ucapan Panji Gumilang. Buktinya ada ratusan Guru yang Mogok Mengajar. Diperlukan modernisasi penyelenggara negara bukan Agama. (*)






