ITB Rilis Potensi Tsunami 20 Meter, Netizen Sukabumi: Hoaks

  • Whatsapp

SUKABUMI, RADARSUKABUMI.com – Institut Teknologi Bandung meneliti terkait adanya potensi terjadinya tsunami setinggi hingga 20 meter di pantai selatan Jawa Barat yang titiknya di Sukabumi. Potensi ini didasari oleh adanya gempa megathrust dengan kekuatan magnitudo hingga 8,7.

Berita ini pun ditanggapi oleh netizen. Dilansir dari fanpage Radar Sukabumi, sejumlah akun facebook memberikan komentar positif dan negatif. Ada yang menuding hoaks, namun banyak pula yang menganggap rilis dari ITB adalah upaya agar warga Sukabumi waspada terhadap segala macam bentuk potensi bencana alam.

Bacaan Lainnya

“Hoax..,” tulis akun Ellan Wasahlan.

“Bari wadul teh,” tulis akun Dandi Rustandi.

Adapula yang menuding bahwa berita ini sengaja dibuat oleh Radar Sukabumi untuk mendulang rating. “Berita sekarang mentingin ratingnya aja…,:: tulis akun Yudha Weah

Namun di sisi lain, lebih banyak netizen yang menanggapi secara positif kabar terkit potensi tsunami di wilayah selatan pulau Jawa tersebut.

“Supaya kita lebih waspada… siap kan pelatihan…jalur evakuasi dan lain sebagainya… Gempa dan sunami Aceh juga gitu…pakar sdh memprediksi… tapi kita pada abai… berita hoax lah…mendahului kuasanya lah…,” kata akun Maman Lisandi.

“Tandanya pemerintah tidak diam pada keselamatan rakyatnya , setidaknya telah berusaha untuk berbuat penyelamatan , terjadi dan tidaknya itu kehendak Allah yang penting dari sekarang sudah ada antisipasi dan berusaha untuk menjaga keselamatan .,” tulis akun Wand Khedar.

Sementara, ada juga netizen yang mengedukasi netizen lainnya agar membiasakan terlebih dahulu membaca isi berita daripada judulnya.. “Di baca terlebih dahulu ibu bapak sblum kalian membaca kalian tidak akan paham apa yg d kemukakan oleh pihak yg berwajib.,” tulis akun Sasa.

Sebelumnya diberitakan bahwa ITB merilis potensi tsunami setinggi 20 meter di selatan pulau Jawa Barat dan setinggi 12 meter di selatan pulau Jawa Timur. Hal inipun ditanggapi oleh BPBD Kabupaten Sukabumi.

“Potensi tsunami yang dirilis oleh ITB disebabkan oleh megathrust dengan kekuatan magnitudo sampai 8,7. Secara teori seperti itu sebab megathrust yang bergerak tapi kalau sesar Cimandiri yang bergerak tidak bakal seperti itu gambarannya. Jadi hasil ITB itu sesar mana megathrust atau sesar Cimandiri-nya,” kata Kasi Kedaruratan BPBD Kabupaten Sukabumi Eka Widiaman.

Eka juga mengatakan bahwa program jalur evakuasi tsunami sedang dipersiapkan dan dibuat oleh BMKG. Hal yang sama juga dilakukan oleh Pemprov Jawa Barat yang difokuskan untuk mitigasi di kawasan Palabuhanratu.

“Bagaimana kita menyiasati potensi tsunami tersebut. Berapa menit air sampai ke darat, seperti apakah masyarakat menghadapinya. Karena memang masyarakat Palabuhanratu dan Ujung Genteng terutama pantai selatan sudah sedikit pernah terlatih dengan kejadian tsunami di Banten. Sudah pernah terpapar mitigasinya tinggal sekarang tingkat kesadaran masyarakatnya saja,” ujar Eka.

Lebih lanjut, Eka menjelaskan bahwa pada prinsipnya fenomena dan bencana alam tidak dapat diprediksi kapan terjadinya, begitupun potensi gempa megathrust dan tsunami. Seperti yang telah dilakukan oleh Pemprov Jabar dan BMKG yang telah merilis siaga darurat kekeringan pada 1 Agustus hingga Oktober 2020 yang pada faktanya malah terjadi banjir bandang di Sukabumi.

Sementara itu, BMKG pun merespons atas riset dari TIB tersebut. Menurut Kepala Pusat Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Rahmat Triyono, perlu ada edukasi masyarakat bahwa ancaman itu ada di selatan Jawa, selatan Bali, dan seterusnya (zona megathrust dari Sumatera hingga kepulauan Nusa Tenggara).

Permodelan kebencanaan ITB, tambahnya, mensimulasikan gempa bermagnitudo (M) 9,1 dari dua segmen. Gempa itu menghasilkan gelombang tinggi tsunam yang merupakan kemungkinan terburuk agar masyarakat bersiap.

“Skenario terburuk adalah skenario terbaik untuk upaya mitigasi. Jangan sampai yang disimulasikan adalah skenario dengan potensi ancaman paling kecil. Justru nanti malah tidak siap,” kata Rahmat. (izo/rs)

Pos terkait

loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *