BERITA UTAMADinas Pertanian

Ini Strategi Menggarap Lahan Pertanian di Masa Covid-19

×

Ini Strategi Menggarap Lahan Pertanian di Masa Covid-19

Sebarkan artikel ini
Redaksi Harian Pagi Radar Sukabumi saat dialog bersama Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi, Sudrajat, Tokoh Pertanian Sukabumi, Maman Suparman dan Ketua HKTI Kabupaten Sukabumi, Bambang Rusdiansyah

SUKABUMI – Lahan baku sawah di Kabupaten Sukabumi mengalami penyusutan. Berdasarkan keputusan Menteri ATR/BPN pada tahun 2018 lalu, dari luas 66.476 hektare lahan baku sawah di Kabupaten Sukabumi, kini turun menjadi 55.000 hektare sawah. Padahal di tengah pandemi Covid-19 ini, masyarakat membutuhkan lahan pertanian agar bisa tetap produktifi.

Informasi yang dihimpun Radar Sukabumi, Keputusan Menteri ATR/BPN tersebut tertuang dalam surat Kepmen nomor 399 tahun 2018 tentang Lahan Baku Sawah Nasional. Dalam paparannya menyebutkan, lahan pertanian di Kabupaten Sukabumi mengalami penurunan akibat banyaknya rencana pembangunan.

Bank bjb Tandamata

Hal demikian dibahas oleh jajaran Redaksi Harian Pagi Radar Sukabumi saat dialog bersama Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi, Sudrajat, Tokoh Pertanian Sukabumi, Maman Suparman dan Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Kabupaten Sukabumi, Bambang Rusdiansyah di Gedung Graha Pena Radar Sukabumi, tepatnya di Jalan Raya Selabintana, Desa Warnasari, Kecamatan Sukabumi, Jumat (29/01/2021).

Dialog dengan tema ‘Strategi Jitu Menggarap Lahan di Tengah Pandemi Covid-19’ ini, Redaksi Radar Sukabumi selain membahas soal penyusutan lahan baku sawah, juga membahas soal jaminan harga dan pasar kepada para petani, kelangkaan kartu tani untuk membeli pupuk subsidi, serangan hama di musim hujan dan lainnya.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi, Sudarajat mengatakan, Kabupaten Sukabumi secara geografis dan demografis sangat luas dan wilayahnya seluas se-Pulau Jawa dan Bali, terlebih lagi dalam lahan pertaniannya.

Bahkan, tercatat dari Kepmen ATR/BPN Nomor 399 tahun 2018 itu, lahan baku sawah di Kabupaten Sukabumi ada 66.476 hektare. Ini artinya banyak potensi petani di atas lahan kering yang bisa dimanfaatkan petani di tengah masa pandemi Covid-19.

Penurunan luas lahan baku sawah di Kabupaten Sukabumi ini, telah dipengaruhi oleh berbagai faktor. Salah satunya, karena banyaknya pembangunan baik yang digunakan oleh kawasan industri atau peroyek skala nasional, maupun dari pembangunan perumahan.

“Terjadinya penurunan luas lahan ini, dimulai dari pendataan kemarin. Iya, sebetulnya secara prontal itu tidak ada penurunan lahan sampai sejauh itu. Namun, karena ada pendataan oleh satelit dari 66 ribu hektare itu, menurun sampai 55 ribu hingga 56 riibu hektare dan hampir sekian ribu hektare luas lahannya tidak ada,” jelas Sudrajat.

Menurut Sudrajat, data ini diketahui merupakan hasil dari foto satelit dan hasil potret satelit terakhir harus menjadi acuan. Untuk itu, Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi juga mengacu pada satelit foto. Lantaran, pemerintah harus satu data.

“Iya, walaupun secara real kita akui pertanian di Kabupaten Sukabumi ini tidak banyak berubah sebetulnya. Kalaupun ada lahan yang berubah, itu pun ada lahan pengganti. Karena, ada yang menurut aturan boleh lahan pesawahan itu digunakan untuk bangunan, tetapi harus diganti sebanyak tiga kali lipat dan ini khusus untuk lahan sawah saja,” bebernya.

Meski demikian, dirinya mengklaim data secara real di lapangan, lahan baku sawah di Kabupaten Sukabumi ini, lebih luas dan tidak kekurangan lahan seluas itu. Walaupun data yang terakhir harus mengacu pada foto satelit tersebut.

“Tidak apa-apalah kalau begitu, tetapi secara realnya kan tidak seperti itu. Iya, ketika pemerintah pusat melakukan pendataan menggunakan satelit, pemerintha daerah tidak dilibatkan.

Lantaran proses dan mekanismenya menggunakan satelit dan kita hanya mengetahui setelah diberikan data seperti ini, tetapi data itu kita klarifikasi di Kabupaten Sukabumi agar data itu tidak terlalu jomblang atau jauh. Karena hampir 9.000 hektare luas lahan yang tidak adanya,” paparnya.

Bukan hanya itu, ujar Sudrajat, suasana di tengah pandemi Covid 19 khususnya bagi para petani di Kabupaten Sukabumi, pada Maret, April dan Mie 2020 telah terjadi panen raya padi. Sehingga, itu bisa melebihi sasaran panen di Kabupaten Sukabumi. Namun ironisnya, pada tahun lalu itu telah terjadi penurunan harga.

“Dimana, seharsunya harga padi gabah kering pada panen raya itu Rp4.300. Namun dilapangan, itu hanya Rp3.700 dan penurunan harga ini berlangsung selama tiga bulan terakhir,” tandasnya.

Artinya, dimasa pandemi Covid-19 pada tahun 2020 itu, produksi beras di Kabupaten Sukabumi sangat banyak. Namun pada saat penjualan hasil produksi berasnya ke luar daerah, dinilai mandek. Karena pada saat itu terkendalan pada PSBB, sehingga hasil dari produksi gabah padi di Kabupaten Sukabumi hanya berkutat atau berputar di wilayah Sukabumi saja.

“Ini menjadi PR kami. Sehingga cukup kewalahan dan kami pun melaporkan persoalan ini kapada Pak Budi Warseso supaya beras ini di drop ke Jerman. Maka pada saat itu, ia bersama timnya dari Bulog langsung turun kembali kelapangan untuk membeli gabah yang ada di deaerah Jampang,” imbuhnya.

Tokoh Pertanian Sukabumi, Maman Suparman menjelaskan, strategi jitu penggarap lahan di masa pandemi Covid-19 adalah bagaimana caranya agar petani meraih pendapatan seoptimal mungkin dengan laba yang optimal pula. Selain itu, ketika menggarapan lahan, maka penggarap harus dapat memanfaatkan lahan pertanian semaksimal mungkin sehingga indek pertanaman (IP) dapat ditingkatkan sampai dengan IP 300.

“Agar lahan pertanian mendapatkan laba semaksimal mungkin ditengah pandemi Covid-19, maka jawabannya tentu harus meyakinkan dengan prodak yang dihasilkan petani di masa pandemi ini agar petani dapat meraih pendapatan dan laba tinggi,” katanya.

Selain itu, terdapat beberapa prodak pertanian yang menghasilkan beberapa pangan yang manjur untuk menangkal virus Covid-19. Yaitu bervitamin. Bahkan hal ini dapat dihasilalkan oleh sayuran dan buah-buahan. Agar badan tetap sehat, maka harus mendapatkan asupan yang berprotein baik dari hewani maupun nabati.

“Maka ditengah pandemi ini, petani disarankan untuk mengembangkan usaha tani yang banyak dibutuhkan oleh masyarakat dalam rangka melawan Covid-19,” pintanya.

Dalam mengembangkan usaha tani yang banyak dibutuhkan masyarakat dalam melawan Covid-19, diantaranya budidaya sayuran baik di lahan pertanian maupun di lahan pekarangan. Baik di pedesaan maupun di perkotaan, baik budidaya secara kompensional maupun secara hidroponik, budiaya buah-buahan musiman maupun tahunan, budidaya unggas.

“Nah yang lebih bagus juga ternak lebah yang menghasilkan madu. Karena madu itu sangat baik untuk menangkal virus dan budidaya ikan baik di kolam maupun di sawah mina padi,” bebernya.

Sementara yang harus dilakukan dan dikembangkan pemerintah dalam mengembangkan petani di masa pandemi Covid-19 ini, menurutnya pemerintah harus dapat menjamin ketersediaan sarana produksi baik itu benih, pupuk pestisida dan lainnya dengan harga yang wajar.

Serta pemerintah harus menjamin harga jual prodak pertanian dan menguntungkan bagi para petani dan tidak memberatkan konsumen. “Dan selain itu pemerintah juga harus terus mempermudah kelancaran transportasi dan produksi hasil dari petani sampai ke pasar secara efisen,” imbuhnya.

Bukan hanya itu, dirinya juga menyarankan agar pemerintah terus meningkatkan penyuluhan dan adopsi teknologi kepada petani agar pruduksinya lebih maju dan protable serta mendorong kelompok petani agar lebih bergairah dalam mengelola usaha taninya dengan memberikan kebijakan tekonologi kepada petani.

“Iya, pemerintah harus terus meningkatkan daya saing dan prodak pertanian agar tembus ke pasar ekspor dan harus ada perhatian secara terus menerus. Jadi kesimpulan saya, petani itu tidak macam-macam sebenarnya, karena mereka itu kebutuhannya hanya SDM, modal dan tekhonologi,” paparnya.

Ketua HKTI Kabupaten Sukabumi, Bambang Rusdiansyah mengatakan, dalam kepengurusannya mengaku, bahwa strategi jitu penggarap lahan di masa pandemi Covid-19 ini, sudah melakukan inventarisasi pada pokok permasalahan. Diantarnaya, seperti mandegnya distribusi hasil panen raya padi pada tahun 2020.

“Nah, justruk HKTI ini telah mendorong hasil pertanian di Kabupaten Sukabumi, agar bagiamana hasil pertaniannya itu bisa dimanfaatkan secara maksimal oleh warga Sukabumi,” katanya.

Dirinya telah mencontohkan agar hasil pertanian Kabupaten Sukabumi dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh warga Sukabumi. Seperti pengadaan binih padi di BPNT. Namun, ironisnya justru saat ini banyak para petani yang mengambil binih padi tersebut dari luar daerah Sukabumi. “Kenapa itu tidak dimanfaatkan ketika panen raya untuk pertanian di Kabupaten Sukabumi,” bebernya.

Sementara, jika dari sisi dari penunjang dan fasilitas, misalnya beras menurutya untuk menjadi beras premium lahan pertanian di Kabupaten Sukabumi, sudah mumpuni.

“Iya, sudah dikatakan layak untuk di Kabupaten Sukabumi. Misalkan penggilingan padi yang ada di masyarakat juga pada bagus semua.

Meski demikian, kedepannya khususnya pada tahun ini kepengurusan HKTI Kabupaten Sukabumi akan mendorong kepada pemerintah daerah agar bersama-sama mendongkrak kesejahtraan petani di masa pandemi Covid-19 dan ini sudah menjadi agenda besar di HKTI untuk meningkatkan taraf ekonomi para petani di Kabupaten Sukabumi. Salah satunya dengan menggelar hasil pertanian dai para petani di Sukabumi yang pada akhirnya nanti dibuatkan galeri UMKM HKTI untuk mengakomodir seluruh hasil pertaniannya,” pungkasnya. (den/t)