Guru Wajib Rapid Test

  • Whatsapp
Warga Kota Sukabumi ikut rapid test yang diselenggarakan Pemerintah Kota Sukabumi di Lapang Merdeka.

SUKABUMI – Memasuki tahun ajaran baru sekolah pada Juli 2020 mendatang, Pemkot Sukabumi akan menerapkan skema normal baru pada sektor pendidikan yaitu menerapkan sistem pembelajaran tatap muka secara shift.

Namun sebelum membuka kembali sekolah yang rencananya akan dimulai pada 13 Juli 2020, semua guru di Kota Sukabumi akan menjalani rapid test massal.

Bacaan Lainnya

Langkah itu harus diambil untuk memastikan bahwa saat tahun ajaran baru nanti, semua sekolah aman dari penyebaran Covid-19.

“Para guru wajib di rapid test sebelum mereka bertemu fisik dengan murid, tentu langkah ini untuk menjamin keselamatan dan kesehatan bersama. Apalagi usia anak-anak sangat rentan,” kata Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Provinsi Jawa Barat (Jabar) Dedi Supandi yang ditemui Radar Sukabumi di sela-sela kunjungannya ke SMA Negeri (SMAN) 4 Kota Sukabumi, Jumat (3/7).

Dedi yang juga Mantan Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPM-D) Provinsi Jabar itu menegaskan bahwa Kota Sukabumi menjadi satu-satunya kota yang berstatus zona hijau di wilayah Provinsi Jabar.

Oleh karena itu, sesuai ketentuan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI, bahwa wilayah yang berstatus zona hijau bisa membuka sekolah pada saat tahun ajaran baru nanti.

“Hari ini (kemarin. red), kita sedang melakukan kunjungan sekaligus memantau persiapan pembukaan sekolah pada Juli mendatang,” imbuhnya.

Adapun konsep pelaksanaan KBM tatap muka di era New Normal ini, harus diisi 50 persen dari jumlah siswa setiap Rombongan Belajar (Rombel). Selain itu, perlu dilakukan shift atau jadwal pertemuan setiap angkatan yang dilakukan per pekan.

Misal, di minggu pertama diisi oleh kelas X, kemudian diminggu ke dua diisi kelas XI dan diminggu ketiga diisi oleh kelas XII. Dedi menambahkan, Kota Sukabumi memiliki 39 SMA/SMK negeri dan swasta, sembilan diantaranya sekolah negeri dan 30 sekolah swasta.

Namun, dikatakan Dedi sebelum melakukan pembelajaran tatap muka, pihak Pemkot Sukabumi khususnya sekolah harus lebih dulu memperhatikan syarat atau point yang harus dipatuhi sebelum membuka sekolah.

Diantaranya, kesiapan infrastruktur, sarana dan prasana sesuai dengan protokol kesehatan seperti tempat cuci tangan di setiap kelas kemudian sekolah harus menyiapkan Satuan Gugus Tugas (Satgas) Covid-19. Point kedua, nantinya akan dihitung berapa persen jumlah warga Kota Sukabumi yang bersekolah di SMA/SMK tersebut.

“Dari hasil survei ini nanti kita akan bisa melihat sekolah mana saja yang sudah siap dan belum siap melakukan pebelajaran tatap muka, semisal satu sekolah secara sarana dan prasana tidak mumpuni maka sebaiknya tidak usah melakukan pembelajaran tatap muka, atau bisa juga ada temuan ternyata lebih dari 50 persen siswa yang tinggal di luar Kota Sukabumi, itu pun menjadi dasar kita untuk tidak memberlakukan tatap muka di sekolah itu.

Bisa saja dari 39 sekolah SMA/SMK yang bisa melakukan KBM tatap muka hanya 50 persen atau malah lebih,” tutur Dedi yang juga Mantan Ketua DPD KNPI Kota Bandung ini.

Sementara itu, Walikota Sukabumi Achmad Fahmi mengatakan, Pemkot Sukabumi terus menjalin komunikasi dengan Pemerintah Provinsi Jabar terkait pelaksanaan kegiatan belajar mengajar kembali dilakukan di sekolah.

Saat ini, pihaknya tengah melakukan penilaian kesiapan sekolah dalam menerapkan protokol kesehatan yang menjadi salah satu persyaratan utama, agar sekolah dapat kembali melaksanakan kegiatan belajar mengajar di sekolah.

Fahmi menegaskan, bahwa hasil penilaian akan segera didapatkan dan akan diketahui sekolah mana saja yang dapat kembali melakukan kegiatan belajar mengajar di sekolah. “Insya Allah tahap pertama yang akan kita buka jenjang pendidikan SMA dan SMP,” pungkasnya.

Terpisah, Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Sukabumi, dr Wahyu Handriana menjelaskan, hingga saat ini pihanya terus berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Sukabumi untuk memastikan sekolah yang bakal menggelar KBM tatap muka siap menjalankan protokol kesehatan.

“Kami terus berkoordinasi dengan Dinas P dan K untuk mengecek sekolah menengah yang direncanakan akan melakukan KBM secara tatap muka pada 13 Juli mendatang,” jelasnya kepada Radar Sukabumi, Jumat (3/7).

Adapun syarat kesiapan bagi pada sekolah, sebut Wahyu, yakni bangunan sekolah harus dibersihkan terlebih dahulu, setiap siswa harus menggunakan masker dan semua sekolah harus memiliki saran dan prasarana protokol kesehatan maksimal.

“Kami juga sudah menyebar kuisoner kepada sekolah tentang kesiapannya, di sekolah itu harus ada tempat mencuci tangan, hansanitizer dan lainnya,” sebutnya.

Selain itu, dalam mempraktekkan sosial distancing dan psikal distancing pada KBM secara tatap muka, yakni pembatasan jumlah murid sebanyak 50 persen. Artinya, setiap ruang kelas hanya boleh di isi oleh 18 siswa.

“Jadi tahap pertama KBM tatap muka ini pada sekolah menengah, SMP dan SMA sederajat yang jumlahnya sekitar 92 sekolah. Para siswa pun diharuskan memiliki surat izin sekolah dari orang tuanya masing-masing,” bebernya.

Pembukaan KBM secara tatap muka, merupakan konsekuensi dari Kota Sukabumi yang telah masuk zona hijau. Namun begitu, pihaknya khawatir jika sekolah dapat menjadi klaster baru penularan Covid-19.

“Maka daei itu, pengendaliannya harus benar-benar dilaksanakan dengan baik, untuk mengantisipasi berbagai hal, maka sekolah yang belum siap tidak akan diizinkan untuk buka,” pungkasnya. (wdy/upi/t)

loading...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *