Guru Perlu Eksplorasi Minat Murid, Tidak Lagi Penuntasan Materi

  • Whatsapp
ILUSTRASI: Seorang Guru (tengah) menerangkan materi pembelajaran kepada murid SDS Yasporbi 1 Pancoran secara hybrid atau kombinasi antara tatap muka terbatas dengan pembelajaran secara daring di Jakarta, Rabu (1/9/2021). Pembelajaran Tatap Muka (PTM) dengan jumlah 50 persen murid dan menerapkan protokol kesehatan. (HARITSAH ALMUDATSIR/JAWA POS)

JAKARTA, RADARSUKABUMI.com – Asesmen Nasional (AN) sebagai pengganti Ujian Nasional (AN) lebih berfokus pada peningkatan pendidikan di suatu wilayah. Tindak lanjut dari AN ini, guru pun diminta untuk lebih mengeksplorasi minat pembalajaran para murid.

Kepala Badan Standar Kurikulum dan Asesmen Pendidikan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) Anindito Aditomo mengatakan, asesmen skala kecil perlu dilakukan untuk mengetahui kemampuan murid mereka.

Bacaan Lainnya

“Untuk guru, guru perlu mulai berlatih meningkatkan kemampuan asesmen sebagai fungsi diagnostik untuk menggali minat dan kemampuan sehingga rencana pembelajaran disesuaikan dengan minat murid. Eksplorasi pengembangan nalar karakter juga perlu, bukan penuntasan materi lagi,” tutur dia dalam webinar Asesmen Nasional, Paradigma Baru Evaluasi Pendidikan Nasional, Kamis (2/9).

Menurutnya, dibandingkan penuntasan materi, para guru sebaiknya fokus pada gaya belajar murid. Untuk menciptakan pembelajaran yang fleksibel, tentu membutuhkan diskusi antar guru.

“Kita fokus pada hal penting saja. Bisa juga membentuk tim. Disdik juga punya peran penting, pengawas sekaligus pendamping, disdik bisa membentuk tim evaluasi dan tindak lanjut dari AN,” ujar Nino.

Kebijakan ini juga nantinya akan melihat kesenjangan antar wilayah, baik itu dari segi gender maupun sosial ekonomi. Oleh karena itu, demi penyetaraan tersebut, guru harus memutar otak agar menciptakan model pembelajaran yang dapat dipahami muridnya.

“Jadi makin tau kesenjangan hasil belajar, apakah laki-laki dan perempuan memiliki gap besar, atau antar wilayah gap besar di wilayah tersebut, atau sosial ekonomi antara keluarga kaya dan miskin. Pasti ada kesenjangan khas antar daerah,” tutupnya. (sai)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *