BERITA UTAMAKABUPATEN SUKABUMI

Bertahun-tahun Dirman Tinggal di Kandang

×

Bertahun-tahun Dirman Tinggal di Kandang

Sebarkan artikel ini

Selain itu, Dirman juga tak pernah mau memakai baju dan celana seperti hilang rasa malu dan velas kasihannya.

“Setiap dikasih pakaian selalu dirobek. Katanya mau dijahit sendiri. Memang saat sehat dia punya keahlian menjahit hasil merantau di Jakarta. Dia juga pernah jualan roti di Kalimantan,” bebernya.

Bank bjb Tandamata

Yang menjadi alasan kenapa Dirman dikurung di tempat yang sempit hingga tak bisa sendiri. Ia selau ngamuk dan khawatir merusak dan menjebol kurungnya.

“Kalau berdiri ada tenaga untuk merusak. Kalau duduk begitu kan tenaganya kurang. Tapi, kayu-kayu bagian bawahnya susah habis dan hanya tersisa satu.
Nah, sebatang kayu itulah yang dijadikan tempat duduknya.

Herannya, meski selama tiga tahun lebih tak pernah dikeluarkan dari kandang. Tubuh dan ranbut panjangnya itu bersih seraya terurus.

“Saya tidak tahu bagaimana caranya dan kapan dia tidur. Kayu yang dibawah itu kan tinggal satu setelah dirusaknya. Sedangkan di kolong, air mengalir. Sehingga kalau buang air besar langsung mengalir dan tidak bau di situ, ” tambahnya.

Sahuni mengaku, akibat tidak tega, dirinya jarang melihat kondisi anaknya yang dikurung itu. Terlebih, Dirman hanya menerima makanan dan minuman dari ibunya.

” Kalau dikasih orang lain suka dilemparkan. Katanya harus dibayar. Makanya kalau ada yang ngasih langsung suka dilempar atau berteriak ke ibunya agar dibayar,” timpalnya.

Selain kerap menyakiti ibunya, yang menjadi alasan kenapa Dirman dikurung, makan dan minumnya selalu pilih-pilih. Jika jajan, ia mengambil ke warung seenaknya dengan nilai tak sedikit.

“Dia tak mau minum air putih. Maunya sprite, coca cola dan minuman-mahak lainnya setiap hari. Rokoknya pun paling sedikit dua bungkus. Tak mau yang murah maunya Dji Sam Soe. Jadi sehari rata-rata Rp80 ribu. Kalau tidak dikasih dia ngamuk bahkan mengancam akan membunuh ibunya, ” jelasnya.

Wakil Ketua RT 10/7, Elgi Elgiansyah menyebutkan serupa. Dia juga mengaku prihatin melihat kondisi tetangganya itu. Di sisi lain seperti tidak berprikemanusiaan, tetapi di sisi lainnya justru sebagai perlindungan kepada yang sakit dan orang-orang yang selalu diancamnya.

“Karena pernah dibawa ke Cilendek dan tidak sembuh, jadi keluarganya pasti menolak kalau ada yang mau membawanya. Kecuali mau diobati saja,” katanya.

JIka ada yang peduli kepada Dirman soal sisi kemanusiaannya, ia berharap agar dibangunkan tempat yang lebih layak. Tetapi ukurannya tetap tidak besar dan seukuran yang sudah ada.

“Agar lebih aman dan nyaman, dibuatkan dari besi. Itu pinta orangtuanya,” harapnya seraya diamini Sahuni. (ryl)