Sikap pesimistis harus dibuang jauh-jauh dari pikiran. Sebab, pemikiran khawatir akan nasib ke depan itu hanya akan membuat orang tidak bisa maju. Toh, semua teknologi muncul saat ini ternyata memilik banyak manfaatnya dibandingkan dampak negatifnya.
Saat ini, di masa yang terus berkembang cepat, sebenarnya banyak orang di dunia juga mengalami kebimbangan. Menerka, apa saja yang bakal terjadi di masa depan. ”Nah, pada posisi inilah pemuda harus tampil. Wujudkan mimpi kalian,” terangnya. Kesempatan bermimpi itu harus terus dikejar dan direalisasikan.
Kunci lainnya yang harus dimiliki pemuda adalah pantang menyerah. Tahap banting. Tidak mudah mengeluh. Orang yang gampang ngomel pasti tidak akan pernah sukses. Kesuksesan juga tidak bakal mengampiri tukang gosip.
Tapi, kalau sudah sukses baru boleh ngomel. Cerewet memperbaiki sistem itu sangat perlu dilakukan oleh pemimpin. ”Ya, contohnya seperti Pak Jonan inilah. Kalian bisa lihat sendiri kan,” sindir Dahlan, membuat ruangan kembali bergemuruh tawa.
Jika individu harus kreatif, Dahlan menambahkan, di tingkat negara, untuk menghadapi revolusi industri 4 pemerintah harus menerapkan sistem dari bawah. Dalam arti, mengenalkan segala sesuatunya langsung pada masyarakat kecil.
Salah satunya dengan gencar sosialisasi penggunakan teknologi ke masyarakat bawah. Mereka harus dikenalkan lebih dahulu, mengenai perkembangan teknologi terbaru. Di Tiongkok, pada masa modernisasi tahap awal, pemerintahnya juga menerapkan penggunaan teknologi canggih dalam aktivitas masyarakat.
Di sana, kalau ingin naik bemo, tidak perlu membayar pakai uang lagi. Langsung pakai kartu. ”Model-model pengenalan seperti ini saya rasa bisa dijadikan reverensi bagi Indonesia,” terangnya. Agar ke depan, ketimpangan akses penggunaan teknologi tidak terjadi di lapisan masyarakat. (elo)




