Kawasan Surabaya Utara punya banyak legenda. Bukan hanya bangunan, melainkan juga tukang cukur. Tentu, hal itu merujuk pada Shin Hua, barbershop tertua di Surabaya.
Yang menggawangi sekarang adalah Tan Ting Kok.
Pria 70 tahun tersebut masih mempunyai banyak pelanggan. Dia tidak sekadar menerima jasa pangkas rambut di tempatnya, tetapi juga ke rumah-rumah pelanggan.
Edi, sapaan Tan Ting Kok, cukup sibuk ketika ditemui Jumat (29/3). Dia mempersiapkan segala keperluan untuk memangkas rambut.
Antara lain, gunting, sisir, dan alat pemangkas rambut elektronik.
Dia mempersiapkan alat-alat tersebut karena ada yang meminta jasanya.
Di disuruh datang ke rumah pelanggan tersebut. ’’Sebentar lagi saya mau dijemput,’’ katanya.
Ya, selain menerima pelanggan di barbershop miliknya di Jalan kembang Jepun No 58, Edi memang biasa menerima panggilan dari para pelanggannya.
Pelayanan yang diberikan Edi bukan tanpa alasan.
Sebagian besar para pelanggannya merupakan orang yang sudah lanjut usia (Lansia).
Mereka tidak sanggup jika harus datang ke barbershop miliknya yang kini telah berusia 108 tahun tersebut.
’’Apalagi setelah tempat cukur ini pindah di lantai 2.
Mereka tidak sanggup. Kalau dulu di lantai 1,’’ ucap Edi, lantas terkekeh.
’’Padahal, saya juga sudah tua,’’ tambahnya.
Sambil menunggu jemputan keluarga pelanggan, Edi sedikit bercerita tentang sejarah barbershop milikya.
Sebenarnya, Edi merupakan generasi kedua pemilik tempat pangkas rambut tersebut.
Dia mewarisi tempat itu dari ayahnya. Namanya Tan Sin Co.
Ayah Tan Ting Kok mendirikan barbershop tersebut pada 1911.
Hingga kini, Edi masih menjaga keaslian barang-barang di barbershop peninggalan ayahnya tersebut.
Di antaranya, kursi, kipas, dan seabrek alat-alat pemangkas rambut lainnya yang sudah berusia ratusan tahun.
Sebagian besar pelanggan Edi merupakan pelanggan lama yang masih hidup. Sangat jarang ada pelanggan muda yang datang ke tempat usaha miliknya itu.
Hal tersebut sudah terjadi sekitar tujuh tahun terakhir.
Yaitu, sejak plang Shin Hua di depan barbershop milik Edi dicopot karena alasan tertentu.
Meski begitu, Edi tidak pernah sepi pelanggan.
Setiap hari ada saja orang yang menggunakan jasanya.
Kebanyakan menghubungi Edi melalui telepon terlebih dahulu.
Tujuannya, mengatur jadwal. ’’Saya kan cuma dibantu satu orang di sini. Yaitu, adik saya,’’ katanya.
Ramainya permintaan untuk memotong rambut di tempat pelanggan membuat Edi cukup sulit ditemui di tempat usahanya. Untuk wawancara, misalnya.
Sejak barbershop Shin Hua buka mulai pukul 10.00 dan tutup pukul 17.00, biasanya Edi sudah memiliki jadwal untuk datang ke rumah pelanggan.
Mereka yang ingin ke barbershop disarankan datang lebih pagi sebelum Edi datang ke rumah pelanggan lain.
Kecuali Minggu. Barbershop milik Edi akan ditutup.
’’Sekarang tidak mesti berapa jumlahnya, tapi ada saja,’’ ucapnya.
Sementara itu, tarif yang dipatok Edi untuk sekali potong adalah Rp 50 ribu.
Meski tarifnya mahal, nyatanya hal tersebut tidak membuat para pelanggan lama lari.
Bisa jadi, chemistry merupakan hal yang tak bisa digantikan.
Jika pelanggan sudah cocok, memang susah berpaling.
(yon/c20/ano)



