“Is art for art, or art for common sense, or art for nothing?“, Itulah pertanyaan klasik yang kerap muncul seputaran filosofi estetika. Tak kecuali terkait busana.
Atas nama seni, tak jarang budaya mapan yang berspirit etik adat dan agama tercabik-cabik.
Salah sedikit contoh yang menyeruak ke permukaan dan viral di dunia sosmed akhir-akhir ini adalah seperti yang terjadi di Bali. Terjadi trend berbusana mini oleh para remaja putri saat mereka bersembahyang di Pura.
Para pemangku adat dan agama di Bali menilai hal tersebut sangat mengganggu dan melanggar norma yang berlaku.
Atau yang paling terhangat, hebohnya desain mode (baru) pakain adat pengantin Sunda yang menampilkan kebaya dengan dipadu bawahan legging ketat berwarna corak kulit sehingga terkesan telanjang. Buah karya desainer Cianjur. Dipamerkan di ajang fashion show bertajuk Wedding Expo 2017 di Hotel Horison Sukabumi beberapa hari yang lalu. Penampilannya sungguh jauh dari nilai-nilai kepatutan baik secara adat Sunda maupun agama.
Setelah foto desain mode tersebut diposting di sebuah group milik warga Sukabumi, beragam komentar bernada menyayangkan bermunculan. Artinya, demikian banyak masyarakat yang masih kukuh berpandangan pada norma-norma adat adat agama.
Para praktisi seni yang kerap berani menabrak batas-batas norma tersebut, biasanya berpijak pada filosofi dan ideologi kebebasan (seni). Art for art. Seni harus murni dan terbebas dari ikatan aturan apapun. Seni termasuk di dalamnya seni berbusana adalah hak privat yang merdeka. Bagi mereka, busana itu sekedar penutup dan penghias badan saja, tak lebih.
Tapi bagi sebagian besar masyarakat (yang lekat dengan budaya) timur, tentu hal sedemikian adalah tidak patut. Pakaian itu, selain harus indah, juga mesti “merenah”. Pilihan dan mode berpakaian adalah hak yg dibatasi oleh hak orang lain yg melihatnya. Berpakaian tak hanya bersifat individual un sich, melainkan juga berdimensi pengenalan identitas kolektif. Tak hanya terbatas fungsi fisik-estetik (penutup dan penghias tubuh), tapi juga berdimensi psikis-simbolik (berupa ekspresi keyakinan identitas pemakai dan lingkungannya tempat ia tinggal).
Maka seyogyanya, penampilan desain busana terlebih dengan menyandingkan identitas kultural dalam hal ini Sunda, haruslah selaras dengan spirit etika Sunda yang senantiasa mengedepankan nilai-nilai kesopanan dan kesantunan. Apalagi Sunda mutaakhir yang telah berakluturasi kuat secara kohessif dengan nilai-nilai ajaran Islam.



