JAKARTA – Penemuan bangkai Paus Sperma di Perairan Wakatobi, Sulawesi Tenggara memantik keprihatinan banyak pihak. Pasalnya, di dalam tubuh paus yang memiliki panjang 9,5 meter dan lebar 4,37 meter tersebut, terdampak banyak sampah.
Aktivis Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Dwi Sawung mengatakan, kasus hewan-hewan laut yang mengkonsumsi sampah plastik belakangan semakin marak. Berdasarkan hasil pantauan lembaganya, kasus serupa juga banyak dilaporkan nelayan-nelayan di daerah. “Cuma kali ini ukuran ikannya sangat besar,” ujarnya kepada Jawa Pos, kemarin (20/11).
Peristiwa tersebut, lanjutnya, menunjukkan tingkat polusi sampah di perairan Indonesia sudah sangat buruk. Bahkan, penyebarannya tidak hanya di laut Jawa, melainkan juga mulai menyebar ke wilayah timur Indonesia. Hal itu selaras segan hasil penelitian yang dilakukan Jenna Jambeck beberapa tahun silam. Saat itu, Jenna menyebut Indonesia sebagai salah satu penyumbang sampah laut terbesar di dunia.
Sawung menambahkan, sampah plastik sangat berbahaya bagi kelangsungan biota laut. Sebab, beberapa sampah, dalam kondisi tertentu kerap memiliki bentuk yang mirip dengan makanan sejumlah hewan laut. “Kadang mirip ubur-ubur, sehingga kerap dimakan,” imbuhnya.
Untuk mengatasi persoalan itu, kata dia, kuncinya adalah pengelolaan sampah di darat. Pasalnya, mayoritas sampah laut berasal dari sampah darat yang tercecer dan hanyut terbawa arus sungai. Pengelolaan sampah di darat sendiri, dia menilai masih jauh dari ideal. Terbukti, masih banyak masyarakat yang memilih membuang sampah ke sungai. Di sisi lain, kebijakan pemerintah untuk menekan penggunaan plastik juga tidak terlaksana dengan baik. Kebijakan plastik berbayar misalnya, sudah tidak dilanjutkan.
Sawung menilai, untuk menuntaskan persoalan tersebut perlu upaya yang menyeluruh. Selain, pengelolaan sampah, dibutuhkan juga perubahan budaya penggunaan plastik. “Misalnya pengurangan penggunaan sedotan. Toh, tanpa sedotan orang masih bisa minum,” tuturnya.
Sementara itu, berdasarkan hasil identifikasi Balai Taman Nasional Wakatobi perut paus berisi berbagai sampah. Di antaranya gelas plastik 750 gr (115 buah), plastik keras 140 gr (19 buah), botol plastik 150 gr (4 buah), dan kantong plastik 260 gr (25 buah). Selain itu, ada juga serpihan kayu 740 gr (6 potong), sandal jepit 270 gr (2 buah), karung nilon 200 gr (1 potong) dan tali rafia 3.260 gr (lebih dari 1.000 potong).
(far)



