SUKABUMI — Pemerintah Kota Sukabumi melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) terus mengubah pola penanganan sampah dari sekadar pengangkutan menjadi pengelolaan berbasis pengurangan sejak dari sumbernya. Langkah ini dilakukan melalui edukasi masyarakat, penguatan fasilitas pengolahan, hingga penataan kawasan perkotaan agar tercipta lingkungan bersih, sehat, dan berkelanjutan.
Kepala Bidang Pengelolaan Sampah, Limbah B3, dan Peningkatan Peran Serta Masyarakat DLH Kota Sukabumi, Yanto Arisdianto, menegaskan bahwa keberhasilan pengelolaan sampah tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. “Penanganan sampah harus dimulai dari rumah tangga. Kami terus mengajak masyarakat membiasakan memilah sampah organik dan anorganik sejak dari sumbernya. Kalau kebiasaan ini terbentuk, volume sampah yang dibawa ke TPA akan jauh berkurang,” ujarnya, Senin (27/7).
Sebagai bagian dari penataan kota, DLH juga menjalankan kebijakan penghapusan TPS di ruas jalan protokol. Bekas titik TPS ditata kembali menjadi ruang hijau atau ditanami tanaman hias agar tidak lagi menjadi lokasi pembuangan liar.
Selain itu, DLH memperluas pemanfaatan teknologi dalam pengelolaan sampah. Sampah organik diolah melalui biopori dan rumah maggot, sementara sampah anorganik diarahkan ke bank sampah dan mitra daur ulang. Optimalisasi TPS3R juga terus dilakukan dengan dukungan teknologi seperti mesin RDF dan pirolisis.
Meski program berjalan, tantangan masih besar. DLH masih menemukan praktik pembuangan sampah sembarangan, bahkan diduga dilakukan oleh oknum dari luar Kota Sukabumi. Untuk mengantisipasi, DLH berencana memperkuat pengawasan dengan pemasangan CCTV di titik rawan, bekerja sama dengan Dinas Perhubungan jika anggaran tersedia.
Tidak hanya penegakan aturan, DLH juga membangun pendekatan persuasif dengan melibatkan tokoh agama, komunitas lingkungan, aparat kewilayahan, serta organisasi perangkat daerah. Edukasi mengenai kebersihan lingkungan disampaikan melalui kegiatan kemasyarakatan maupun keagamaan agar kesadaran tumbuh dari nilai moral dan budaya.





