TIMUR TENGAH — Eskalasi konflik antara Iran dan Amerika Serikat (AS) semakin mengkhawatirkan setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) memperluas serangan balasan dengan menyasar sejumlah pangkalan militer Washington di Yordania dan Qatar.
Serangan ini dilakukan sebagai respons atas gelombang serangan udara AS terhadap fasilitas militer Iran dalam beberapa hari terakhir. IRGC pada Senin (13/7) mengumumkan telah meluncurkan rudal dan drone ke Pangkalan Udara Prince Hassan di Yordania.
Menurut IRGC, serangan tersebut merupakan fase pertama dari operasi balasan atas serangan AS ke pangkalan militer pesisir Iran. Mereka mengklaim serangan memicu kebakaran di depot bahan bakar dan gudang amunisi.
Militer Yordania membenarkan adanya rudal yang memasuki wilayah udaranya, namun menegaskan sistem pertahanan udara berhasil menggagalkan ancaman tersebut. “Empat rudal yang memasuki wilayah udara Yordania dari wilayah Iran berhasil dicegat dan dihancurkan,” tegas militer Yordania.
Selain Yordania, IRGC juga mengklaim telah menghancurkan tangki bahan bakar, sistem pertahanan udara Patriot, dan radar strategis di dua pangkalan udara di Kuwait. Namun, Staf Umum Kuwait menyatakan sistem pertahanan udara mereka berhasil mencegat serangan tersebut dan meminta masyarakat tetap tenang serta mengikuti instruksi keamanan.



