Oleh: Abid Fahreza Alphanoda
DI sebuah sudut Desa Mangkalaya, Gunungguruh, Kabupaten Sukabumi, sebuah reaktor tertutup kini menjadi “dapur” baru bagi sampah organik. Bukan untuk dibakar, melainkan diolah—perlahan—menjadi biogas dan pupuk organik cair lewat Teknologi Mikroba Elektrolisis Biodigester (MEB) yang diterapkan oleh LPPM Universitas Pancasila.
Bagi desa, persoalan sampah bukan cerita baru. Dalam catatan tim pelaksana, timbulan sampah Mangkalaya mencapai sekitar 115,10 m³ per bulan, dengan 56% berupa sampah organik. Masalahnya, baru sekitar 36% yang terangkut ke TPA. Selebihnya berisiko berakhir di pembakaran terbuka atau dibuang ke lingkungan.

Di tengah situasi itu, kolaborasi kampus–warga–UMKM dicoba dipertegas melalui program hibah pengabdian. SukabumiUpdate menulis dalam unggahan videonya, “Melalui program hibah pengabdian masyarakat 2025, kami menerapkan teknologi MEB…”
Pada fase awal, tim memasang satu unit reaktor MEB berkapasitas desain 1.000 liter untuk menampung dan memproses sampah organik rumah tangga serta sisa bahan baku dari mitra UMKM. Hasil uji operasi awal menunjukkan reaktor mulai menghasilkan biogas yang dimanfaatkan pada skala rumah tangga, sementara pupuk organik cair diuji pada lahan warga.
Bukan hanya soal alat. Program juga berjalan lewat sosialisasi, pelatihan teknis dan manajemen, pendampingan operasional, dan evaluasi sosial dalam sadar pengolahan serta pemilahan sampah. Di video yang dipublikasikan, SukabumiUpdate menekankan kerja kolaboratif: “Universitas Pancasila, warga, dan pelaku UMKM Desa Mangkalaya bekerja sama mengelola sampah berkelanjutan dengan teknologi MEB.”
Langkah berikutnya, sebagaimana ditulis dalam publikasi tim, adalah memperkuat stabilitas operasi, memastikan pasokan sampah terpilah, serta menyusun skema keberlanjutan agar biogas dan pupuk bukan hanya produk uji coba, tetapi bagian dari ekosistem ekonomi lokal yang bisa direplikasi. (*)






