SUKABUMI — Hampir setahun berlalu sejak banjir bandang menghantam Kampung Babakan Cisarua, Desa Cidadap, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi. Namun hingga kini, puluhan warga masih hidup dalam ketidakpastian relokasi.
Janji relokasi pascabencana belum terealisasi. Sebagian warga bertahan di atas puing rumah yang rata dengan tanah, sementara lainnya menumpang di rumah saudara. Kondisi ini membuat mereka terus dihantui risiko bencana susulan setiap kali hujan deras mengguyur.
Menanggapi hal tersebut, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (Kang Dedi) menegaskan bahwa Sukabumi kerap dilanda bencana akibat kerusakan lingkungan. “Sukabumi itu terus-menerus mengalami problem. Kuncinya satu, alamnya rusak,” ujarnya melalui media sosial, Jumat (9/2/2026).
Ia menyebut maraknya pertambangan, alih fungsi lahan, serta menyusutnya kawasan hutan sebagai pemicu utama. Berdasarkan data Pemprov Jabar, kebun sawit terluas di Jawa Barat berada di Sukabumi. “Jalan hancur, mobil bertonase besar lalu-lalang setiap hari. Maka problem akan terus terjadi,” tegasnya.
Terkait rumah warga yang belum mendapat kompensasi, Kang Dedi menjelaskan bahwa Pemkab Sukabumi sebelumnya mengajukan bantuan sekitar 500 rumah terdampak langsung ke BNPB, bukan ke Pemprov Jabar. “Hari ini saya akan meminta Bupati Sukabumi mengajukan usulan ke Provinsi. Kita akan segera selesaikan masalah itu,” katanya.
Ia memastikan Pemprov Jabar akan menindaklanjuti agar ada kejelasan bagi ratusan keluarga korban. “Hatur nuhun atas ketidaknyamanan pelayanannya. Jaga alam, jaga lingkungan. Kalau tidak ingin banjir, tanam pohon, bukan tanam keributan,” tuturnya.






