SUKABUMI – Sudah setahun berlalu sejak bencana pergerakan tanah melanda Kampung Gempol, Desa Cikadu, Kecamatan Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi. Namun, janji relokasi bagi warga terdampak belum juga terealisasi. Akibatnya, ratusan warga terpaksa kembali menempati rumah mereka yang rusak parah dan nyaris roboh.
Yeni (39), salah satu warga terdampak, kini tinggal bersama suami, dua anak, dan dua cucunya di rumah yang dindingnya retak, lantainya amblas, dan hanya ditopang bambu agar tidak ambruk. “Semua sudah hancur. Kalau hujan deras, saya tidak bisa tidur. Kami tidur di dapur yang sempit, anak saya sering menangis karena takut,” ujarnya lirih, Minggu (21/12/2025).
Yeni mengaku sempat mengungsi dan dijanjikan bantuan uang kontrakan sebesar Rp600 ribu per bulan. Namun, bantuan itu tak pernah diterima. Karena keterbatasan ekonomi, ia terpaksa kembali ke rumah yang tak lagi layak huni. “Mau ngontrak tapi nggak ada uang. Akhirnya kami kembali ke sini,” katanya.
Kesedihan Yeni kian dalam ketika cucunya harus dibawa pergi oleh ayahnya karena khawatir rumah akan roboh sewaktu-waktu. “Tadi malam cucu saya diambil bapaknya. Saya sedih sekali,” ucapnya sambil menahan air mata.
Tokoh masyarakat Kampung Gempol, Hasim, menyebut warga hidup dalam ketakutan setiap hari. “Secara jiwa dan raga, kami tidak tenang. Ini sudah setahun sejak bencana pertama 4 Desember 2024, lalu terjadi lagi 18 Desember 2025,” katanya.
Menurut Hasim, warga sempat dijanjikan relokasi ke lahan milik Perkim seluas tujuh hektare, lengkap dengan pembagian lokasi per RT. Mereka juga dijanjikan Dana Tunggu Hunian (DTH) selama enam bulan. Namun, hingga kini, tak ada satu pun janji yang ditepati.






