SUKABUMI – Suasana malam di Kampung Cikiwul, Desa Sekarwangi, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi mendadak gempar, Sabtu (20/9) sekitar pukul 22.46 WIB. Kobaran api melahap bangunan laundry milik Al-Bayyan Boarding School yang berada di kompleks asrama putra. Dalam hitungan menit, ruangan berukuran 15×5 meter itu hangus dilalap si jago merah.
Asap pekat membumbung tinggi, disertai kobaran api yang menjilat ke segala arah. Warga sekitar panik, sebagian berusaha memadamkan api dengan alat seadanya, sementara lainnya segera menghubungi petugas pemadam kebakaran.
Wakil Komandan Posko V Damkar Cibadak, Heri Hermawan, menyebutkan bahwa api diduga berasal dari korsleting listrik pada mesin cuci.
“Begitu laporan masuk, kami langsung meluncur ke lokasi dalam waktu empat sampai lima menit. Tapi akses jalan sempit dan menanjak, cukup menyulitkan,” ujar Heri, Minggu (21/9).
Meski petugas bergerak cepat, api sudah terlanjur membesar. Tumpukan pakaian seragam siswa yang menunggu giliran dicuci justru mempercepat kobaran.
“Ada sekitar 300 seragam siswa di dalam ruangan. Itu jadi bahan bakar yang mempercepat penyebaran api. Untungnya bangunan laundry agak terpisah, jadi tidak menjalar ke gedung lain,” jelasnya.
Tiga armada dari Pos Cibadak, Parungkuda, dan Cisaat dikerahkan dengan total 16 personel. Proses pemadaman berlangsung dramatis karena lokasi bangunan berada di bawah tebing curam.
“Medannya sulit, bangunan di bawah dan curam. Tapi alhamdulillah api bisa dipadamkan dalam waktu sekitar satu setengah jam, termasuk proses pendinginan,” tambah Heri.
Tidak ada korban jiwa maupun luka dalam peristiwa ini, namun kerugian material ditaksir mencapai Rp250 juta. Seluruh isi ruang laundry, termasuk mesin cuci, mesin pengering, dan pakaian siswa, ludes terbakar.
Kebakaran ini menjadi peringatan serius bagi pihak sekolah dan masyarakat sekitar mengenai pentingnya standar keselamatan, terutama di fasilitas yang rawan korsleting listrik. Minimnya jalur evakuasi dan medan yang sulit memperlihatkan kerentanan bangunan di kawasan padat dan berbukit.
“Alhamdulillah api tidak merembet ke asrama lain. Kalau sampai menjalar, risikonya jauh lebih besar, apalagi ada ratusan siswa di kompleks tersebut,” tegas Heri.
Pasca-kebakaran, pihak sekolah tengah mencari solusi sementara untuk kebutuhan laundry para siswa. Heri mengimbau agar pengelola asrama lebih memperhatikan instalasi listrik, penggunaan peralatan elektronik, serta menyediakan alat pemadam ringan (APAR) untuk mengantisipasi kejadian serupa.(den/d)






