BERITA UTAMA

Berjuang Demi Keluarga, Pekerja Migran Asal Sukabumi Tutup Usia di Korea

×

Berjuang Demi Keluarga, Pekerja Migran Asal Sukabumi Tutup Usia di Korea

Sebarkan artikel ini
Suasana rumah duka keluarga almarhum Heri Wibawa warga Kampung Cimantaja, Desa Cikiray, Kecamatan Cikidang, Kabupaten Sukabumi
Suasana rumah duka keluarga almarhum Heri Wibawa warga Kampung Cimantaja, Desa Cikiray, Kecamatan Cikidang, Kabupaten Sukabumi

SUKABUMI – Duka mendalam menyelimuti keluarga besar Heri Wibawa (28), warga Kampung Cimantaja, Desa Cikiray, Kecamatan Cikidang, Kabupaten Sukabumi. Pemuda pekerja migran yang dikenal gigih dan penuh tekad itu meninggal dunia di Korea Selatan setelah sempat dirawat di rumah sakit di wilayah Pohang.

Menurut sang kakak, Andaryana (37), Heri berangkat ke Korea pada 2022 melalui program J to J setelah lolos seleksi sejak 2019. Keberangkatannya sempat tertunda akibat pandemi Covid-19. “Dia ingin kerja di Korea sampai 10 tahun. Katanya nyaman, tidak ada masalah. Tujuannya cuma satu: membahagiakan orang tua dan melunasi hutang keluarga,” ujar Andaryana dengan suara bergetar.

Bank bjb Tandamata

Selama bekerja di Korea, Heri berhasil mewujudkan janjinya. Ia melunasi utang keluarga senilai lebih dari Rp90 juta dan membangun rumah untuk sang ibu. Gajinya mencapai Rp22 juta per bulan sebelum dipotong pajak dan asuransi. Meski jauh dari tanah air, Heri tetap menjaga komunikasi dan bahkan telah membeli tiket pulang untuk cuti akhir September. Ia berencana kembali ke Korea pada 14 Oktober 2025.

Namun takdir berkata lain. Awal Agustus, Heri mulai mengeluhkan sakit kepala. Ia tetap bekerja meski diminta beristirahat. Pada 9 Agustus, ia pingsan di tempat kerja dan dirawat di rumah sakit. Keluarga menerima kabar duka pada 18 Agustus, sehari setelah komunikasi terakhir dengan ibunya.

Kini, keluarga berharap jenazah Heri segera dipulangkan. Berdasarkan informasi dari KBRI, proses pemulasaraan jenazah memakan waktu 3–4 hari, dan kepulangan diperkirakan 7–10 hari setelah kabar diterima. “Harapan kami, jangan sampai selama itu. Kami ingin almarhum segera sampai di rumah ini, agar bisa dimakamkan di tanah kelahirannya,” pinta Andaryana dengan mata berkaca-kaca.(ndi/d)