SUKABUMI — Demi menjaga kondusivitas dan mencegah potensi konflik sosial berbasis keagamaan, Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Sukabumi akan mengintensifkan edukasi toleransi dan kerukunan kepada masyarakat di tiga kecamatan: Cidahu, Parakansalak, dan Cibadak.
Ketiga wilayah tersebut dianggap memiliki tingkat kerawanan sosial berdasarkan evaluasi internal dan kejadian masa lalu yang sempat memicu ketegangan.
Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag Kabupaten Sukabumi, Deddy Wijaya, menjelaskan bahwa langkah ini merupakan bagian dari program nasional Penguatan Deteksi Dini dan Pencegahan Konflik Sosial Berdimensi Keagamaan, yang dilaksanakan bersama unsur Forkopimda, Majelis Ulama Indonesia (MUI), tokoh agama, dan perwakilan ormas Islam.
“Bukan berarti sedang terjadi konflik, tapi hasil evaluasi menunjukkan perlunya langkah preventif secara intensif. Masyarakat di sana perlu mendapatkan edukasi mendalam tentang toleransi, kerukunan antarumat, dan pemahaman terhadap regulasi kehidupan beragama,” ungkap Deddy kepada Radar Sukabumi, Jumat (11/07).
Melalui para penyuluh agama, Kemenag akan terus melakukan pendekatan yang bersifat dialogis, sosial, dan kultural. Menurut Deddy, membangun harmoni adalah tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat.
“Edukasi dan dialog ini merupakan bentuk rekonsiliasi sosial dengan tujuan menciptakan ketenangan dan keamanan yang berkelanjutan di tengah masyarakat,” ujarnya.
Deddy juga menyampaikan bahwa beberapa insiden masa lalu di wilayah Cidahu dan Cibadak telah ditangani oleh tim gabungan dari Kemenag, Bakorpakem, dan Forkopimda. Hingga saat ini, tidak ditemukan aktivitas mencurigakan atau pergerakan kelompok yang berpotensi mengganggu stabilitas.






