JAKARTA — Beberapa waktu lalu BMKG sempat mengeluarkan peringatan mengenai potensi gempa Megathrust di wilayah Selat Sunda dan Mentawai – Siberut. Melansir Radar Mojokerto, bahwa potensi gempa dan tsunami di Selat Sunda bukanlah hal yang baru.
Pasalnya, lempeng Selat Sunda dan Mentawai – Siberut sudah ditandai sejak dahulu menjadi zona kekosongan gempa besar (seismic gap) yang sudah berlangsung selama ratusan tahun.
Seismic gap pada Selat Sunda dan Mentawai – Siberut dapat melepaskan kekuatan gempa besar sewaktu-waktu, sehingga harus tetap diwaspadai.
Lempeng selat yang aktif
Selat Sunda sendiri menjadi daerah rawan gempa dan banyak meninggalkan jejak tsunami dari ratusan tahun yang lalu. Letak Selat Sunda yang berada pada Lempeng India – Australia dan Lempeng Eurasia menyebabkan wilayah ini memiliki aktivitas tektonik yang rumit.
Menyadur artikel Jurnal Geologi Indonesia yang ditulis oleh Yudhicara dan K. Budiono, adanya Palung Sunda yang merupakan batas pertemuan lempeng menyebabkan kawasan ini berpotensi menghasilkan gempa-gempa besar.
Selain itu, kesenjangan lempeng di Selat Sunda menyebabkan penumpukan energi yang dapat dilepaskan setiap waktu dan berpotensi menghasilkan tsunami.
Struktur geologi Selat Sunda yang fluktuatif dan aktif membentuk reruntuhan yang memungkinkan terjadinya longsor di bawah laut apabila gempa bumi terjadi.
Topografi pantai di sekitar Selat Sunda juga mempunyai pengaruh terhadap potensi terjadinya bencana.
Hal ini dikarenakan topografi pantai yang relatif terjal mengakibatkan menghasilkan tingkat pelapukan yang tinggi, terutama pada Teluk Semangko dan Teluk Lampung.
Pelapukan tersebut dapat mengakibatkan longsor di bawah pantai terutama jika curah hujan di daerah tersebut tinggi. Jika longsoran tersebut jatuh ke laut walaupun intensitasnya kecil dan bersifat lokal, maka dapat memicu terjadinya tsunami.
Sejarah dan jejak gempa dan tsunami di Selat Sunda. Katalog tsunami yang ditulis oleh Soloviev dan Go mencatat adanya tsunami yang pernah terjadi di Selat Sunda.
Dalam katalog tersebut dijelaskan bahwa salah satu penyebab terjadinya tsunami erupsi gunung api pada tahun 416. Catatan mengenai tsunami ini berasal dari Catatan Kitab Raja Purwa yang ditulis oleh Ronggowarsito.
Kitab ini menceritakan tentang terjadinya erupsi Gunung Kapi (Gunung Krakatau), naiknya gelombang air laut yang membanjiri daratan di negeri timur Gunung Batuwara yang sekarang diyakini menjadi Gunung Pulosari Pandeglang, Banten.
Banjir tersebut juga sampai pada wilayah Gunung Rajabasa yang terletak di Lampung Selatan serta mengakibatkan orang-orang disekitarnya hanyut. Melansir artikel pada Prosiding Nasional yang ditulis oleh Ferry Dwi C, tsunami di Selat Sunda juga terjadi pada tahun 1722 akibat gempa yang sangat kuat.






