KABUPATEN SUKABUMI

Anak SD Pengidap Thalasemia di Nyalindung Sukabumi Butuh Bantuan

×

Anak SD Pengidap Thalasemia di Nyalindung Sukabumi Butuh Bantuan

Sebarkan artikel ini
Anak SD Pengidap Thalasemia
Lutfie Sakhie Zaidan (8) asal warga Kampung Mekarjaya, RT 05/RW 03, Desa Nyalindung, Kecamatan Nyalindung, Kabupaten Sukabumi, saat menjalani transfusi darah di RS Secapa Polri.

SUKABUMI – Nasib memilukan menimpa seorang anak, Lutfie Sakhie Zaidan asal warga Kampung Mekarjaya, RT 05/RW 03, Desa Nyalindung, Kecamatan Nyalindung, Kabupaten Sukabumi.

Bocah berusia 8 tahun yang merupakan anak pasangan dari Dede Erwan (34) dan Dede Suherti (30) ini, membutuhkan bantuan karena mengidap penyakit thalasemia yang membutuhkan transfusi darah rutin setiap dua minggu sekali.

Bank bjb Tandamata

Kepala Desa Nyalindung, Asep Supriyadi kepada Radar Sukabumi mengatakan, thalasemia merupakan sebuah penyakit genetik yang menyebabkan gangguan pada produksi sel darah merah.

Penderita thalasemia seperti yang dialami Lutfie membutuhkan transfusi darah secara berkala untuk menjaga keseimbangan sel darah merah dalam tubuhnya. “Iya, kasihan anak itu mengidap penyakit thalasemia sejak lahir. Sekarang ia, duduk di kelas 2 sekolah SD yang ada di Kecamatan Nyalindung,” kata Asep kepada Radar Sukabumi pada Jumat (16/08).

“Jika terlambat melakukan transfusi darah, anak tersebut tampak terlihat lemas. Bahkan, pada bagian kuku tangannya terlihat berubah warnanya menjadi menguning,” timpalnya.

Keluarga Lutfie telah berjuang keras untuk menyediakan bantuan medis yang ia butuhkan, namun beban finansial yang mereka hadapi semakin berat dan mereka membutuhkan bantuan.

“Orangtuanya anak yang mengidap thalasemia itu, bekerja sebagai OB atau office boy di kantor pemerintahan Kecamatan Nyalindung. Jadi, mungkin penghasilan ekonominya kurang,” paparnya.

Biaya yang harus mereka keluarkan setiap kali transfusi darah sangatlah tinggi. Hal ini menjadi beban berat bagi keluarga yang berasal dari latar belakang ekonomi yang pas-pasan.

Ketika disinggung mengenai bantuan dari pemerintah, Asep menjawab, bantuan untuk transfusi darah dan obat sudah dibantu dari pemerintah melalui program BPJS. Namun, karena keterbatasan ekonomi, keluarga Lutfie kerap mengalami kesulitan dengan biaya transportasi dan biaya perbekalan selama proses cek kesehatan ke rumah sakit.

“Lutfie ini, kalau transfusi darah suka ke Rumah Sakit Bhayangkara atau RS Setukpa Polro Kota Sukabumi. Kalau dulu, biasanya transfusi darahnya 1 bulan sekali. Nah, untuk sekarang kata orangtuanya 2 minggu sekali,” tukasnya.