BERITA UTAMAPemerintah Kota Sukabumi

EKSKLUSIF: Cerita 2 Pasien Positif yang Sembuh dari Corona di Kota Sukabumi

×

EKSKLUSIF: Cerita 2 Pasien Positif yang Sembuh dari Corona di Kota Sukabumi

Sebarkan artikel ini

SUKABUMI, RADARSUKABUMI.com – Kedua orang warga Kota Sukabumi ini sama sekali tidak pernah menyangka bahwa dirinya bakal terpapar virus corona atau COVID-19. Mereka adalah TH dan D, kedua orang pasien terkonfirmasi positif COVID-19 yang kini telah dinyatakan sembuh.

“Alhamdulillah, kabar saya sekarang sangat baik,” kata seorang mantan pasien positif corona berinisial TH dalam wawancara eksklusif kepada Radarsukabumi.com, Rabu (3/6/2020).

Bank bjb Tandamata

Dalam cuplikan liputan eksklusif ini, pria yang diketahui bekerja di RSUD R Syamsudin SH Kota Sukabumi itu mengungkapkan dirinya menjalani proses perawatan dan isolasi di rumah sakit tempat dia bekerja. Adapun durasi masa karantina tersebut sebanyak 14 hari.

“Saya menjalani isolasi di (Rumah saki) Bunut selama 14 hari. Hingga akhirnya hasil swab kedua dan ketiga dinyatakan negatif, alhamdulillah saya dinyatakan sembuh dan bisa pulang ke rumah,” ungkap TH.

TH sendiri mengaku tidak mendapatkan gejala yang sangat klinis. Sebulan sebelum menjadi pasien positif covid-19, dia sempat terjangkit demam berdarah dengue (DBD). Lalu ketika dinyatakan reaktif pada rapid test khusus kalangan profesi, TH saat itu hanya merasakan gejala diantaranya susah menelan namun tidak disertai demam.

Selama mendapatkan perawatan, kata TH lagi, dirinya mendapatkan pelayanan yang sangat baik oleh dokter, perawat dan tim kesehatan lainnya. Selain keluarga, dukungan yang luar biasa juga datang dari Wali Kota Sukabumi Achmad Fahmi.

“Bapak Wali Kota Sukabumi luar biasa sekali memberikan dukungan. Hampir setiap hari sabtu atau Minggu melakukan video call kepada saya, langsung ke handphone pribadi. Dukungan juga datang dari Direktur RSUD Bunut, Ibu Kepala Dinas Kesehatan, dan teman-teman saya. Tentunya juga keluarga yang setiap hari selalu menanyakan kabar saya lewat video call,” ujar dia.

Salah satu hal paling menarik bagi TH ketika menjalani hari-hari sebagai pasien terkonfirmasi positif Covid-19 adalah mendapatkan hikmah dan keberkahan tersendiri. Sebab secara kebetulan, TH menjalani isolasi saat bulan suci Ramadan.

“Jadi kegiatan saya setiap hari ya ngaji, alhamdulillah, ini juga berkat bimbingan bapak wali kota, saya bisa khattam Alquran. Selain itu saya juga merasa lebih baik lagi secara keimanan, lebih dekat dengan Allah SWT. Karena jujur saja, saya itu orangnya jarang nangis. Tapi ketika menjadi pasien positif, saya nangis. Bukan karena takut virusnya, tapi takut karena Allah SWT,” tutur TH.

Kisah yang berbeda diutarakan oleh D, seorang wanita yang bekerja di Laboratorium Kesehatan Daerah atau Labkesda Kota Sukabumi. Ada yang unik pada kronologi sebelum, saat dan sesudah terpapar covid-19 pada D.

“Jadi saya itu pas tes rapid hasilnya un-reaktif. Namun pas ikut tes swab, malah positif,” ungkap D dalam wawancara eksklusif terpisah kepada Radarsukabumi.com, Rabu.

Bahkan, imbuh D lagi, dia nyaris tidak menderita gejala apapun terkecuali flu dan lidah susah mengecap alias tidak dapat merasa. Adapun suhu tubuhnya hanya 36 derajat celcius saja. Sehingga dengan kondisi tersebut, D mengusulkan kepada Kepala Dinas Kesehatan dr Rita Fitri agar menjalani isolasi mandiri di rumah saja.

“Jadi karena saya tidak ada gejala-gejala dan setelah melakukan konsultasi dengan ibu kepala dinas kesehatan dan juga kepala labkesda, jadi saya isolasi mandiri di rumah saja. Nah mungkin di situ lah menariknya cerita saya dibandingkan pasien yang isolasi di rumah sakit,” papar D.

D pun mengenang saat-saat dia menjalani isolasi mandiri di rumah, tepatnya 14 hari hanya di kamar tidur yang memiliki kamar mandi pribadi selama 14 hari. Sembari tertawa kecil ketika mengingatnya, D mengatakan harus kucing-kucingan dengan suami dan anak-anaknya.

“Jadi saya kalau mau minta makan, harus telpon dulu. Terus kalau mau berjemur, harus kucing-kucingan sama anak-anak. Jadi mereka harus ngumpet dulu, sudah gitu, aman, baru saya keluar dari kamar. Lucu sih, tapi sedih juga,” kenang dia.

Hal lainnya yang tak kalah mengharukan adalah ketika menjalani ibadah puasa dengan kondisi isolasi mandiri di rumah. Biasanya di ramadan-ramadan sebelumnya, dia lah yang menyiapkan menu berbuka dan sahur. Namun ramadan edisi corona tahun ini, kondisi pun berbalik.

“Ya saya yang disiapkan makanan. Kadang dari dalam kamar, saya dengar anak-anak asyik makan berbuka. Itu tuh sedih banget. Tapi ya mau gimana lagi, situasinya seperti ini,” lirih D.

Sebagai mantan pasien covid-19 yang kini telah dinyatakan sembuh dan sebagai tenaga kesehatan, D pun menyampaikan seabrek pesan penting kepada warga masyarakat Kota Sukabumi. Salah satunya adalah wajib mematuhi protokol kesehatan yang telah ditetapkan oleh pemerintah.

“Gampang kok, patuhi dan jalani protokol kesehatan. Pakai masker, cuci tangan pakai sabun, pakai hand sanitizer, jaga jarak, tidak berkerumun, giat dan disiplin dalam pola hidup bersih dan sehat dengan cara makan makanan yang sehat dan bergizi. Intinya tingkatkan imun tubuh agar tidak rentan terpapar segala macam virus,” demikian pesan dari D.

Wawancara eksklusif dengan TH dan D sebagai dua orang mantan pasien positif corona yang kini dinyatakan sembuh berdasarkan hasil swab akan berlanjut. Terus ikuti berita-berita yang disajikan oleh Radarsukabumi.com sebagai media massa pertama dan terbesar di Sukabumi. (izo/rs)