UNIVERSITAS NUSA PUTRA

Penting Teknologi Dalam Kehidupan Dan Kelebihan Mahasiswa NPU Menurut Profesor ‘Rock ‘N Roll’

×

Penting Teknologi Dalam Kehidupan Dan Kelebihan Mahasiswa NPU Menurut Profesor ‘Rock ‘N Roll’

Sebarkan artikel ini

RADARSUKABUMI.com – “Mahasiswa di sini yang sangat responsif, dan itu membuat saya senang,” jelas dosen Signal Processing atau Ilmu Pemrosesan Sinyal yang popular dipanggil Gerard Borg, dalam sesi wawancara saat jam istirahat kelas pascasarjana Gedung B Kampus Universitas Nusa Putra (NPU), Sabtu (29/2/2020) pukul 16.00 WIB.

Bagaimana kesan dan pandangan penggemar musik country dan rock ‘n roll kelahiran Sedney, Australia, 20 November 1959, ini tentang Ilmu Pemrosesan Sinyal dan mahasiswa pascasarjana NPU?

Bank bjb Tandamata

Berikut petikan wawancara dengan pria yang merupakan dosen Teknik Nirkabel dan Frekuensi Radio Australian National University (ANU) ini:

Bisa Anda jelaskan secara sederhana apa itu Ilmu Pemrosesan Sinyal ?

Ilmu Pemrosesan Sinyal adalah Ilmu Matematika yang diajarkan kepada semua mahasiswa teknik di seluruh dunia.

Ilmu ini dipelajari untuk menganalisa soal matematika yang rumit, khususnya di bidang teknik.

Jadi ilmu ini merupakan mata kuliah wajib di semua jurusan teknik yang dibutuhkan untuk menganalisa, mendesain, dan memprediksi data yang rumit dalam sebuah sistem.

Misalnya, jika Anda mempunyai sistem komunikasi nirkabel (Wireless Communication System), Anda menerima sinyal melalui antena, lalu sinyal tersebut memasuki medan listrik, kita harus menggunakan Pemrosesan Sinyal untuk mendapatkan informasi.

Sama halnya dengan ketika kita ingin melakukan pengukuran, seperti suhu, akselerasi, arah, dan sebagainya, kita membutuhkan pemrosesan sinyal untuk menentukan titik atau lokasi yang tepat.

Jadi pemrosesan sinyal adalah hal yang harus dilakukan, dan matematika adalah cara untuk melakukan analisis tersebut.

Seberapa penting ilmu itu dalam kehidupan manusia?

Sangat penting, terutama untuk pekerjaan yang bersifat teknik. Semua sarjana teknik harus menguasai perhitungan matematika untuk pemrosesan sinyal dalam sebuah sistem.

Misalnya, dalam pembuatan dan pengoperasian pesawat terbang, kita membutuhkan pemrosesan sinyal.

Contoh lain, misalnya Magnetic Resonance Imaging (MRI) yang juga menggunakan pemrosesan sinyal cukup rumit, untuk mendapatkan gambar bagian tubuh manusia.

Radar, yang digunakan untuk menentukan lokasi atau target, juga membutuhkan pemrosesan sinyal.

Contoh lain, dapat ditemukan pada telepon seluler ketika kita ingin melakukan panggilan atau mengirim pesan, juga pada Nuclear Quadrupole Resonance (NOR), X-Ray atau rontgen, bahkan pada proses pembangunan gedung pun menggunakan Ilmu Pemrosesan Sinyal. Ilmu ini sangat penting dan tidak bisa lepas dari kehidupan manusia.

Perusahaan apa saja yang membutuhkan tenaga yang menguasai Ilmu Pemrosesan Sinyal ini?

Siapapun yang menguasai ilmu ini sangat dibutuhkan oleh perusahaan-perusahaan yang mempekerjakan sarjana-sarjana teknik, misalnya perusahaan yang bergerak di bidang komunuikasi, elektronik, penerbangan, rumah sakit, dan banyak lagi.

Seperti kita ketahui, ilmuwan komputer, pembuat perangkat lunak, mereka juga mempelajari ilmu ini untuk menyimpan dan memelihara data cukup besar atau membuat sistem tracking atau pelacakan.

Soal budaya belajar, apa perbedaan dan persamaan mahasiswa di Australia dan Indonesia

Persamaannya, mahasiswa Indonesia mempunyai gaya belajar yang sama, lebih terlibat secara aktif dalam kegiatan belajar, berbeda dengan ketika mereka masih sekolah, di mana guru menulis, dan siswa menyalin, lalu menghafal.

Di sini saya melihat mereka cukup aktif seperti halnya mahasiswa yang ada di Australia. Tetapi, di sini saya harus menggunakan metode dan teknik belajar berbeda dengan di Australia, karena mahasiswa di sini sebagian besar adalah karyawan, sehingga mereka tidak bisa belajar full time, dan terlihat cepat lelah.

Mahasiswa Nusa Putra sangat responsif, dan itu membuat saya sangat senang. Mereka sering mengajak saya makan siang (tertawa).

Mereka kerap terlibat aktif di kelas, itu sangat bagus. Hal seperti ini tidak biasa dilakukan mahasiswa di Australia. Di sana tidak hanya belajar, tapi juga harus mengimplementasikan, tetapi tidak terlalu terlibat aktif ketika di kelas.

Lebih nyaman mana, mengajar di Indonesia atau Australia?

Sangat berbeda. Yang menjadi masalah di sini adalah, saya harus menyelesaikan semua kegiatan perkuliahan hanya dalam dua pekan, sementara di Australia, saya punya waktu 14 minggu untuk perkuliahan ini.

Jadi, di sini saya harus benar-benar menyesuaikan diri. Tentu hal ini memengaruhi persiapan saya sebelum mengajar.

Saat mengajar di Australia, saya maupun mahasiswa benar-benar mempersiapkan diri dengan baik, karena punya waktu cukup untuk itu. Di sini, bisa dikatakan persiapan saya sangat mendadak.

Apa kebiasaan belajar positif mahasiswa Australia yang bisa ditiru mahasiswa Indonesia?

Menurut saya kesiapan mahasiswa di sana sangat baik. Ketika sudah berada di kelas, mereka sangat memperhatikan setiap materi yang disampaikan oleh dosen.

Ilmu Pemrosesan Sinyal yang saya ajarkan di Australia sudah memenuhi standar pengajaran sama dengan di Amerika Serikat karena universitas tempat saya mengajar sudah terakreditasi, dan salah satu universitas besar di Australia.

Selain itu, sangat disayangkan di sini mahasiswanya tidak full belajar, tetapi juga harus bekerja.

Bahkan, saya melihat banyak pelajar dan mahasiswa Indonesia yang sudah bekerja di usia sangat muda. Ketika saya menjadi seorang mahasiswa, saya tidak harus bekerja, karena di tempat saya kuliah gratis.

Apakah semua sekolah dan perguruan tinggi di Australia gratis?

Tidak semua. Bahkan, ada universitas yang biayanya sangat mahal. Tetapi sekolah semua gratis. Saya berharap sistem yang diterapkan di Indonesia juga sama baiknya dengan Australia, dengan menggratiskan semua sekolah.

Dan akan lebih baik jika biaya kuliah juga tidak mahal sehingga membuat mahasiswa terpaksa bekerja selama kuliah. Itu cukup berat, menurut saya.

Saya menghabiskan 100% waktu untuk belajar. Di sini, sebagian besar mahasiswa harus bekerja empat hari dan sisanya untuk belajar. Saya pahami itu, karena mereka juga harus menghidupi keluarganya, cukup berat memang.

Saya kira sebaiknya pelajar dan mahasiswa di Indonesia harus menerapkan sistem belajar full time, dengan tenaga pengajar yang berkualitas. Karena jika guru atau dosen tidak mengusai materi, maka lulusannya pun kurang berkualitas.

Saya memaklumi kondisi mahasiswa yang harus bekerja empat hari seminggu, mungkin tidak bisa dihindari.

Salah satu solusinya adalah dengan memperpanjang masa belajar, sehingga materi bisa terserap dengan baik, dan mahasiswa mempunyai waktu yang cukup untuk me-review materi yang sudah dipelajari.

Punya rencana kembali ke Indonesia setelah menyelesaikan program ini?

Ya, pasti. Saya sangat ingin kembali ke sini. Kemungkinan besar saya akan kembali ke Indonesia bersama istri saya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *