Oleh : Zaini, S.Ag., M.MPd
Wakil Ketua Bidang PB, SDM dan Relawan/Kepala Markas PMI Kota Sukabumi
BEBERAPA hari sebelum kita melaksanakan puasa di bulan suci Ramadhan tahun ini, terjadi gempa bumi berkekuatan 6,7 SR (Magnitudo) di Provinsi Jawa Timur. Wilayah yang terkena dampak diantaranya Kabupaten Malang, Blitar dan Lumajang. Gempa bumi memang sering terjadi di berbagai wilayah di Indonesia, termasuk di Sukabumi. Uniknya sampai saat ini belum ada alat yang dapat memprediksi kapan terjadinya gempa bumi.
Gempa bumi termasuk bencana alam (disasters) yang dapat menyebabkan timbulnya korban jiwa, kerugian material, dan kerusakan lingkungan yang terkadang dampaknya melampaui kemampuan masyarakat setempat untuk mengatasinya sehingga dibutuhkan bantuan dari luar.
Menurut agama Islam, terjadinya gempa bumi bukan hanya sekedar fenomena alam, akan tetapi merupakan peringatan dari Allah SWT agar manusia meninggalkan maksiat dan kembali ke jalan-Nya. Allah berkehendak dengan pergerakan lempeng bumi maka terjadilah gempa atas izin-Nya. Bahkan terjadinya gempa bumi bisa menjadi adzab yang Allah berikan kepada orang-orang yang telah melampaui batas.
Allah SWT berfirman : “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia. Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (Q.S. Ar-Rum : 41).
Dengan adanya bencana gempa bumi manusia seharusnya sadar bahwa bencana itu adalah ujian dari Allah dan mereka berusaha mendekatkan diri kepada Allah. Sebagai makhluk, manusia sangat lemah sementara Allah Sang Khalik Yang Maha Kuat. Ujian yang Allah berikan selayaknya menjadikan manusia dapat mengambil pelajaran dan hikmah. Jika manusia memahami hal ini maka mereka akan menjadi prinadi yang bertakwa kepada Allah.
Mengambil hikmah dari bencana gempa bumi, ada kemiripan dengan ibadah puasa. Dalam puasa, Allah menguji hamba-Nya untuk menahan nafsu dengan tidak makan, minum, berhubungan suami istri dan menjaga indera, lisan serta anggota tubuh dari perbuatan dosa. Orang yang puasa dilatih untuk sabar dan ikhlas menjalankan perintah Allah. Pada akhirnya mereka menjadi pribadi yang bertakwa kepada Allah.
Allah SWT berfirman : “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (Q.S. Al-Baqarah : 183).
Untuk selamat dari bencana gempa bumi maka harus ada usaha dalam bentuk kesiapsiagaan. Kesiapsiagaan bencana adalah upaya yang memungkinkan masyarakat (individu, kelompok, organisasi) dapat mengatasi bahaya peristiwa alam melalui pembentukan struktur dan mekanisme tanggap darurat yang sistematis.
Tujuannya untuk meminimalisir korban jiwa dan kerusakan sarana-sarana pelayanan umum. Diantara usaha itu adalah dengan melakukan mitigasi, yaitu upaya penyadaran masyarakat terhadap potensi dan kerawanan lingkungan sehingga mereka dapat mengelola kesiapsiagaan terhadap bencana. Termasuk di dalamnya dengan upaya memiliki bangunan aman gempa, seperti yang dilakukan oleh PMI Kota Sukabumi.
Melalui dukungan PMI Pusat dan Palang Merah Amerika, PMI Kota Sukabumi melakukan Retrofitting, yaitu renovasi rumah warga yang awalnya memiliki struktur biasa saja menjadi rumah aman gempa. Dan masih banyak upaya lainnya dalam kesiapsiagaan bencana gempa bumi.
Begitu juga puasa, kalau ingin sukses menjalankan puasa dan selamat dari rusaknya puasa maka harus ada ikhtiar dengan cara meninggalkan perbuatan dosa dan memperbanyak amal ibadah sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Diantara amal ibadah yang dianjurkan selama bulan Ramadhan selain puasa adalah qiyamullail (sholat taraweh), tadarrus Al-Qur’an, menuntut ilmu, sedekah, berdzikir, istighfar dan membaca sholawat.
Dengan demikian bencana gempa bumi dan ibadah puasa sama-sama ujian dari Allah SWT kepada hamba-Nya. Bedanya gempa bumi adalah fenomena alam sedangkan puasa adalah perintah ibadah untuk orang yang beriman. Jika kita dapat mengambil hikmah dari keduanya maka kita akan menjadi manusia yang bertakwa kepada Allah SWT. Orang yang beriman dan bertakwa maka hidupnya akan selamat di dunia dan akhirat.
Wallahu A’lam Bisshowab.(*)




