Bangkit Pasca Pandemi Covid-19

Reny Sukmawani (Akademisi Universitas Muhammadiyah Sukabumi)

Oleh: Reny Sukmawani
(Akademisi Universitas Muhammadiyah Sukabumi)

Tiga tahun lebih kita melewati masa pandemi Covid-19 dengan berbagai dampak yang dirasakan oleh seluruh masyarakat. Dampak ini bukan hanya dirasakan di Indonesia tetapi hampir semua bangsa di belahan bumi merasakannya.

Bacaan Lainnya

Pandemi Covid-19 dengan berbagai varian yang muncul telah memporak-porandakan tatanan hidup yang ada, sehingga kemudian berkembanglah berbagai adaptasi dalam kehidupan menuju “new normal”.

Dampak covid-19 yang paling dirasakan adalah di sektor ekonomi. Berbagai hasil penelitian bahkan menyebutkan bahwa Covid-19 ini menurunkan pertumbuhan ekonomi yang berakibat pada terjadinya peningkatan kemiskinan.

Tidak dapat dipungkiri fakta yang ada menunjukan banyaknya industri kecil dan besar terpaksa harus mengurangi produksi, melaksanakan efisiensi tenaga kerja bahkan gulung tikar karena Covid-19. Tidak sedikit berbagai kajian dilakukan yang berujung pada kesimpulan betapa Covid-19 ini telah menimbulkan dampak merugikan hampir di semua sektor.

Badan Pembangunan PBB dan Lembaga Penelitian Ekonomi dan Sosial (LPEM) Universitas Indonesia (UI) melaporkan bahwa 9 dari 10 UMKM di Indonesia selama masa pandemi Covid-19 mengalami penurunan permintaan produksi dan lebih dari 80% UMKM mencatat keuntungan yang lebih rendah serta lebih dari 53% mengalami penurunan aset.

Berbagai upaya dan rekomendasi disampaikan oleh banyak pihak baik para ahli maupun berupa kebijakan pemerintah untuk membantu masyarakat yang terdampak dari mulai program aksi hingga program pemberian bantuan.

Kini tiga tahun terlewati, Presiden Jokowi dalam tayangan konferensi pers di Istana Bogor melalui YouTube Sekretariat Presiden, mengumumkan kebijakan pelonggaran terkait Covid-19, yaitu mengenai penggunaan masker.
Presiden Jokowi menyampaikan bahwa masyarakat ketika sedang beraktivitas di luar ruangan atau di area terbuka (yang tidak padat diperbolehkan untuk tidak menggunakan masker.

Kebijakan ini dikeluarkan karena menurut Presiden Jokowi, pandemi di Indonesia sudah terkendali. Hal ini tentu saja menjadi angin segar buat kita semua, terlepas dari masih ditemukannya masyarakat yang terdeteksi positif Covid-19, tiga tahun melewati masa pandemi sudah cukup lelah kita menghadapinya dan kini saatnya kita bangkit menata kembali tatanan hidup kita.

Momen Hari Kebangkitan Nasional yang biasa diperingati setiap 20 Mei mestinya bisa menjadi salah satu titik awal kita semuanya bangkit. Slogan Ayo Bangkit sebagai tema Hari Kebangkitan Nasional 2022 dapat menjadi dorongan penyemangat untuk menata diri dan masyarakat di sekitar kita agar hidup lebih berkualitas.

Kita dapat memaknainya dengan bangkit dari keterpurukan dan menyongsong masa depan lebih baik. Apa yang dapat dilakukan untuk bangkit?

Tentu saja dapat diawali dengan memperbaiki dan meningkatkan kualitas hidup diri sendiri bahkan hingga meraih prestasi. Secara khusus untuk dapat bangkit dari keterpurukan ekonomi pasca Covid-19 banyak upaya yang dapat dilakukan. Kuncinya ada di inovasi dan motivasi. Inovasi dapat menjadi “ruh” dalam membangkitkan ekonomi.

Melalui inovasi segala kendala dan masalah sulit seharusnya dapat teratasi. Sebagai contoh di dalam usaha atau bisnis, inovasi bisnis dapat menjadi “key” yang membuat bisnis yang dijalankan mampu terus bergerak walau diterjang kendala atau hambatan.

Sedangkan motivasi merupakan daya penggerak yang dapat merangsang kemauan atau mendorong kita untuk berupaya lebih semangat lagi mencapai tujuan atau cita-cita.

Para ahli mengungkapkan bahwa motivasi ini dapat menjadi dorongan bagi sesorang untuk melakukan tindakan tertentu untuk mencapai tujuan tertentu. Sehingga motivasi ini dapat menjadi modal awal utama, untuk kita bangkit pasca pandemi Covid-19. Dengan motivasi yang kuat, inovasi dapat tercipta. Melalui inovasi ayo bangkit bersama! (Selamat Hari Kebangkitan Nasional 2022). (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan