ARTIKEL

Tahun Kelima: Refleksi Kepemimpinan Fahmi-Andri

×

Tahun Kelima: Refleksi Kepemimpinan Fahmi-Andri

Sebarkan artikel ini
kang-warsa

Manusia memang hidup dalam kisah, seperti diungkapkan oleh Yuval Noah Harari, semakin sederhana, maka kisah tersebut akan diterima dengan baik.

Percekcokan panjang antara para saintis dan agamawan merupakan kisah pendek dari sekian bentang sejarah manusia. Kisah yang terjadi di akhir abad pertengahan hingga sekarang.

Bank bjb Tandamata

Dengan pikiran yang tidak bijaksana, maka kedua kelompok pun saling mencurigai, para saintis melakukan penelitian untuk membuktikan tidak ada peran dan campur tangan ilahi dalam kehidupan, sementara itu para agamawan mencoba menjelaskan bahwa segala sesuatu di dunia ini tidak lepas dari pengawasan Yang Ilahi.

Jika saja para saintis dan agamawan modern memahami salah satu karya William Ockham, mereka mungkin akan menyadari kekeliruannya masing-masing. Hanya oleh manusia seperti Ocham lah antara yang transenden dengan profan dapat bersanding.

Antara Potentia Dei Absoluta dengan Potentia Dei Ordinata tidak menunjukkan dua kutub perbedaan, yang ada justru saling melengkapi.  Manusia harus berada di antara dua kutub dengan memahami berbagai disiplin ilmu sekaligus menapaki jalan keilahian.

Kisah pergulatan antara para saintis dengan agamawan di saat Copernicus mengemukakan teori Heliosentris sama sekali tidak dimaksudkan untuk menghilangkan ayat tentang Bumi sebagai pusat Tata Surya.

Apakah matahari sebagai pusat Tata Surya atau justru Bumi yang menjadi pusatnya tidak menjadi soal. Jika ukuran pusat tata surya ditentukan oleh besar gaya gravitasi, maka matahari merupakan pusat tata surya.

Ketika penentuan pusat tata surya ditentukan oleh unsur kehidupan manusia yang membuat postulat serta teori tentang tata surya, maka pusat kehidupan di tata surya ini memang berada di Planet Bumi.

Apakah tanpa Bumi, Matahari tidak berguna? Kegunaan dan kemanfaatan apa pun yang ada di alam dunia ditentukan oleh perasaan yang dimiliki oleh makhluk hidup. Dan para saintis tentu saja diharamkan memasuki areal pengandaian yang tidak perlu seperti andai Bumi tidak ada.

Di salah satu sudut planet Bumi sebuah wilayah bernama Kota Sukabumi menjadi bagian dari kehidupan di alam dunia. Sampai tahun 2023, Kota ini telah berusia 109 tahun sejak didirikan sebagai kota praja oleh Pemerintah Hindia Belanda.

Kendati telah berumur satu abad lebih, angka ini tidak memiliki arti apa pun jika dihadapkan dengan sejarah panjang kehidupan manusia. Bahkan dapat saja, sejak semula wilayah ini diisi oleh manusia juga tetap tidak berarti apapun.

Jadi, ketika keberadaan sebuah wilayah dilihat berdasarkan Potentia Dei Absoluta, hukum-hukum universal, hal paling kecil seperti Kota Sukabumi ini sama sekali tidak memiliki pengaruh apapun kepada dunia yang tidak terbatas. Namun, ketika kita memandang Kota Sukabumi sebagai bagian partikular yang di dalamnya terdapat individu-individu serta hal-hal yang dihasilkan oleh setiap individu, wilayah ini memiliki pengaruh besar bagi  kehidupan. Hanya dengan membebaskan diri dari hukum universal, hal kecil dapat menjadi terlihat besar.

Lima tahun kepemimpinan Fahmi dan Andri merupakan wilayah partikular sebagai bagian paling kecil dari skenario hukum-hukum alam. Kita harus mematuhi hukum-hukum ini tanpa mengedepankan sikap apriori. Lima tahun hanya bagian dari quantum terkecil di jagat besar.

Pembangunan fisik, mental, dan spiritual yang telah dilakukan oleh kepala daerah tidak berarti apa-apa di antara miliaran fenomena-fenomena alam yang terjadi setiap detik. Walakin, lima tahun merupakan masa yang tepat untuk membawa Kota Sukabumi ke arah yang lebih baik.

Di masa yang akan datang, orang-orang Sukabumi harus menyadari kehadiran dirinya di dunia ini. Hanya dengan mengikuti rumus dan hukum alam lah, pembangunan dan penataan suatu wilayah akan berhasil secara utuh. ***