Landasan teologi yang dikembangkan oleh manusia juga cenderung mencitrakan Tuhan pada antropomorfisme, manusia memandang Tuhan seolah-olah memiliki sifat yang dimiliki oleh manusia. Manusia memang memiliki alasan melakukannya, pencitraan Tuhan seperti ini dilakukan oleh manusia dari waktu ke waktu agar konsepsi keilahian yang rumit dapat dengan mudah dicerna oleh manusia.
Seperti disebutkan oleh Plato: sekumpulan kuda yang ada di dalam kandang, di saat mereka sedang membicarakan Tuhan, sudah dipastikan akan mempersepsikan Tuhan sesuai dengan diri mereka. Tentu saja tindakan manusia seperti ini tidak salah, mengingat manusia sebagai homo sapiens sekaligus homo deus, badan bersama jiwa.
Kesementaraan menjadi penting bagi manusia dan makhluk lainnya agar mengalami dan melewati setiap fase kehidupan. Sejak dalam kandungan, dilahirkan ke dunia, menua, dan meninggalkan kembali dunia ini. Jika harus diperbandingkan, apa arti umur manusia -paling lama menginjak 80 tahun- di hadapan usia alam semesta?
Lebih sederhana lagi, apa arti umur manusia jika dibandingkan dengan sejarah perjalanan spesiesnya sendiri? Dengan demikian, manusia telah menyadari ketidakabadian dirinya. Secara perlahan, seluruh manusia terus mengarah kepada fase kehidupan yang lebih rapuh dan rentan.
Kesementaraan di dalam ruang dan waktu tidak hanya memengaruhi kenisbian manusia, juga berdampak terhadap apa yang dikerjakan, diciptakarsakan, dan dihasilkan oleh manusia. Manusia sebagai homo faber, makhluk pekerja pada saatnya harus menghentikan pekerjaan dan benar-benar berhenti dari pekerjaannya.
Usia produktif sebagai bonus demografi memang merupakan usia dominan yang dimiliki oleh manusia, selama empat puluh tahun dari usia 20 sampai 60, manusia menikmati masa keemasannya.
Kendati demikian, dalam praktiknya hanya sekian persen saja usia produktif dimanfaatkan oleh manusia. Sisanya, karena watak alamiah dan memang telah disebutkan di dalam kitab suci, usia manusia lebih banyak dihabiskan untuk bersenda gurau dan sikap tidak produktif.
Kita sering memandang, manusia yang lebih banyak mengisi usia produktif dengan kegiatan nonproduktif dengan sebutan pangedulan atau manusia malas. Nyatanya, tindakan nonproduktif inilah yang telah menyelamatkan manusia.
Tidak mungkin manusia sebagai makhluk pekerja terus-menerus bekerja di usia produktif dengan mengenyampingkan kegiatan nonproduktif, misalnya beristirahat. Dalam sesi hidupnya, manusia akan sampai di sebuah terminal peristirahatan.
Jika dipikir secara mendalam, ada benarnya juga ketika planet Bumi didominasi oleh manusia malas justru kondisi Bumi akan tetap sama dengan masa beberapa ribu tahun lalu. Orang malas tidak mungkin melakukan kegiatan pengrusakan, mengeruk isi perut Bumi, melakukan deforestasi dan pembalakan hutan, serta tindakan lainnya yang membawa planet ini pada masalah-masalah yang tidak pernah dijumpai sebelumnya.
Hanya saja, sikap malas justru dijadikan jargon ketidakberdayaan, jadi secara alamiah mengikuti kodrat alam, manusia harus terus bergerak seperti halnya alam ini terus bergerak saling tarik-menarik. Lima menit saja Bumi melakukan kemalasan dalam bergerak sudah tentu akan menimbulkan dampak mengerikan bagi penghuninya juga terhadap konstelasi alam semesta.
Manusia produktif pada saatnya akan memasuki usia pensiun dan nonproduktif. Dalam fase ini, manusia harus benar-benar berhenti dari bekerja, entah pekerjaan di kantor, pabrik, atau di sawah dan ladang.
Hal ini tidak berarti manusia benar-benar total bergerak, masa pensiun harus diisi dengan tindakan nonproduktif yang bersifat epifani, tindakan vertikal bukan lagi sebatas membangun hubungan koordinasi dengan sesama manusia, melainkan membangun kolaborasi dengan langit.





