Membangun hubungan secara vertikal dengan Tuhan bukan berarti hanya dilakukan di masa tua saja, namun harus lebih intensif dilakukan di masa peristirahatan.
Di alam kesementaraan, dalam terma kasundaan sebagai alam marcapada, manusia mengikuti hukum-hukum yang telah disiapkan oleh Tuhan. Semua silih berganti, datang dan pergi.
Manusia baru bermunculan, kemudian meninggal kembali, datang kembali manusia baru, terus menerus-menerus tanpa mengenal lelah. Teman-teman saya para penganut Hindu mengkoneksikan situasi ini dengan perjalanan sang atma di belantara semesta, roda samsara sebagai penyucian agar sang atman mencapai moksa dan kembali ke dalam nirwana.
Kehidupan saat ini sebagai penjara di alam ruang dan waktu menjadi penentu apakah sang atma akan kembali ke dunia, tersungkur ke alam bawah (buana larangan) atau menempati nirwana dan kembali kepada Sang Pemilik.
Kendati demikian, manusia telah mengetahui bahwa dunia merupakan alam kesementaraan namun tidak sedikit dari kita yang mempertahankan dengan bersikukuh pada materi-materi keduniawian. Tidak sedikit juga di antara kita dipusingkan untuk memenuhi segala macam keinginan meskipun tidak dikategorikan ke dalam jenis kebutuhan.
Ada alasan, mendapatkan dan mempertahankan materi merupakan satu keniscayaan agar manusia tetap dapat melanjutkan eksistensi kehadirannya di dunia ini. Dan ini bukan hal yang salah, mengingat manusia menempati ruang dan waktu, maka siapapun akan terikat oleh materi-materi yang sebagai bagian penting dari konstelasi dunia.
Pendapat seperti ini tidak salah selama manusia memahami kesementaraan dalam hidup, tidak bersikap serakah, dan benar-benar tulus bahwa setiap perbuatan yang dilakukan olehnya untuk menjaga kelangsungan hidup spesies manusia secara keseluruhan.
kenapa Tuhan menciptakan dunia ini tidak kekal dan ajek selamanya melainkan dilengkapi oleh kesementaraan? Para saintis alam tidak sepenuhnya memasukkan terma keilahian dalam kajian-kajian yang telah mereka kerjakan. Alasannya memang sederhana, ilmu pengetahuan harus bebas dari intervensi keilahian, karena bagi para saintis hal-hal yang tidak terbatas bukan menjadi objek kajian ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan hanya meneliti dan mengkaji hal-hal yang terukur, terbatas, dan tercerna oleh penginderaan.
Terlepas apakah hasil dari kajian tersebut menghasilkan sesuatu yang tidak terbatas dan abstrak. Oleh karenanya, di dalam buku-buku pelajaran dari SD hingga Perguruan Tinggi, jarang sekali kita menemukan terma keilahian. Kekukuhan para saintis untuk menghindarkan dirinya dari ranah keilahian memang dibenarkan selama hasil dari kajian tidak dimaksudkan untuk melakukan konfrontasi dengan keyakinan orang lain. Ketika para saintis menceburkan diri ke dalam perdebatan tentang ada dan tidak adanya Tuhan, maka mereka telah menyalahi kodrat keilmuan yang bersifat sekuler.
Ilmu pengetahuan tidak akan dapat memberikan jawaban terhadap pertanyaan tadi, kenapa Tuhan menciptakan dunia tidak kekal namun secara perlahan berjalan menuju ke arah kerusakan. Ilmu pengetahuan hanya memberikan informasi meskipun hukum kekekalan energi benar-benar ada di dunia ini, namun pada akhirnya dunia akan lenyap, mengalami kerapuhan, dan mati dengan sendirinya.
Sementara itu, di sampung para saintis, kelompok agamawan dapat memberikan jawaban mengenai kesementaraan alam dunia berdasarkan informasi dari kitab suci: “setiap ciptaan akan mengalami kerusakan, kecuali Tuhan”. Hanya dengan satu ayat ini, orang beragama telah mendapatkan jawaban yang tidak bertele-tele, alam dunia akan mengalami kerusakan, proses pengrusakannya sendiri diserahkan kepada Sang Pencipta.
Sepintas, dua kelompok -antara para saintis dengan agamawan- memiliki pandangan berbeda dan saling berseberangan. Padahal keduanya memiliki persamaan tentang kerusakan dan kesementaraan alam dunia ini. Perdebatan antara para saintis dan agamawan tentang keberadaan alam dunia pun sebenarnya bersifat sementara, karena kedua-duanya merupakan bagian dari hukum Tuhan juga. Kitab tertulis atau wahyu dengan kitab alam merupakan dua hal yang saling melengkapi.
Kedua kitab – ayat qauliyah dan kauniyah– memerlukan penafsiran agar relevan secara konteks. Misalnya, di dalam kitab suci dijelaskan mengenai peringatan agar manusia tidak hidup bermegah-megahan, ilmu pengetahuan dengan hukum fisika yang telah dikemukakan oleh para saintis menyebutkan: eksploitasi secara besar-besaran terhadap materi akan menghabiskan materi dan mengubahnya ke bentuk energi lain.
Perubahan energi ini berakibat fatal bagi alam, bagi manusia. Pemanasan global, salah satunya dipicu oleh kecenderungan serakah dan kegemaran bermegah-megah yang dilakukan oleh sebagian manusia. Dengan mengkompromikan kedua pandangan ini, nyatanya tidak terdapat perbedaan.





