Alasan lainnya, sebagian besar orang Yahudi menyebar ke berbagai negara karena alam bawah sadar mereka sebetulnya menyangsikan dan meragukan, kondisi tanah perjanjian yang kering dan minim sumber daya alam sangat paradoks dengan imaji surgawi yang dimuat dalam kitab suci mereka tentang tanah yang subur, ditumbuhi oleh pepohonan, dan air jernih mengalir. Pada saat eksodus besar-besaran dan penerapan inkuisisi Spanyol terhadap umat Islam dan Yahudi, mereka menafsirkan ulang bahwa tanah perjanjian adalah sebuah benua di sebelah barat, yang kemudian dikenal dengan Amerika. Sampai abad ke-19, mereka mulai membangun komunitas di Amerika Serikat.
Holocaust oleh NAZI secara tidak langsung menjadi jendela masuk bagi bangsa Yahudi untuk pindah ke Palestina. Sangat rasional, sebagian besar bangsa Eropa sangat tidak mengharapkan kehadiran bangsa Yahudi, apalagi menduduki wilayah dan jabatan strategis. Sikap Hitler menjelang akhir Perang Dunia II dengan mengusir dan menggiring bangsa Yahudi ke kamp konsentrasi, sebetulnya disambut baik oleh para pemimpin Eropa.
Inggris seolah mendukung eksodus bangsa Yahudi ke Palestina agar mereka benar-benar mengosongkan negaranya. Inggris mendukung sepenuhnya pendirian negara Israel karena dengan demikian orang-orang Yahudi akan keluar dari Inggris, termasuk keluar dari negara-negara Eropa.
Apa yang dilakukan oleh Hitler dengan mengusir dan membunuh orang-orang Yahudi sebetulnya sama dengan apa yang dilakukan oleh negara-negara Eropa yang memusuhi Hitler, yaitu mengeluarkan orang-orang Yahudi dari benua mereka. Perbedaannya terletak dari caranya saja, kasar atau halus.
Saya mungkin termasuk anak yang beruntung pada tahun 1987 karena sudah dapat mengakses informasi tentang sepak terjang bangsa Yahudi sejak tahun 1948, pasca-kemenangan mereka terhadap Mesir dan Suriah dalam Yom Kippur. Dan itu hanya melalui sebuah majalah.
Informasi penting lainnya, saya telah mengetahui rencana mereka yang tertuang di dalam The Protocols of The Elders of Zion di majalah yang sama. Masyarakat kita -mungkin- baru mulai mengenal protokol para tetua Zion ini beberapa tahun setelah reformasi, saat penerjemahan dan pencetakan buku-buku dari Timur Tengah marak di negara ini. Dan yang mengetahui dan ingin tahu juga hanya sebagian kecil saja dari kita.
Orang-orang Yahudi yang baik mungkin akan menyangkal informasi mengenai “keberengsekan” bangsa Yahudi, sama halnya dengan umat Islam akan menyangkal ketika digeneralisasi sebagai kaum radikal. Karena keburukan memang tidak dapat disangkutpautkan dengan etnis, negara, agama, dan bangsa.
Siapa saja dapat menjadi baik atau jahat, dan ketika kejahatan itu dilakukan oleh orang-orang dari mana latar belakangnya, maka akan berlaku pepatah karena nila setitik rusak susu sebelanga. Hanya karena sebagian kecil bangsa Yahudi yang berkhianat dan membunuh para nabi, citra Yahudi pun pada akhirnya menjadi tercoreng. Ketika segerombolan psikopat yang beragama Islam melakukan pengeboman di Bali beberapa tahun lalu, maka umat Islam pun akan dituding sebagai pelaku makar dan dicurigai. Apalagi di era kemajuan infotek, framing akan sangat mudah diciptakan. Walakin, yakinlah bahwa kebenaran akan selalu tetap bersinar, meskipun ditutupi oleh tembok tebal kemunafikan. ***





