Kepatuhan terhadap wanci ini berbanding lurus antara kisah yang dibangun oleh alam tentang gelombang yang dipancarkan menjelang pergantian waktu siang ke malam. Piranti lunak yang dimiliki oleh alam, saat menjelang magrib, gelombang gamma memancar melingkupi permukaan bumi. Energi ini jika diserap oleh tubuh manusia dapat merusak sel, mutasi genetika, hingga mengganggu jam biologis pada manusia. Itulah alasan, kenapa para orangtua melarang anak-anaknya berada di luar rumah menjelang magrib.
Listrik telah masuk ke perkampungan di pertengahan dekade 80-an. Memang masih banyak perkampungan yang belum tersentuh aliran listrik. Infrastruktur listrik seperti tiang dan kabel belum sepenuhnya dibangun oleh pemerintah Orde Baru.
Dan bagi masyarakat yang sudah dapat menikmati listrik, suasana di malam hari tidak seseram dengan beberapa tahun sebelumnya saat penerangan hanya mengandalkan lampu obor kerosin. Walakin, kebiasaan sebelumnya tetap mendominasi kehidupan, anak-anak masih tetap tidak berani keluar menjelang magrib. Mereka lebih kerasan tinggal di dalam rumah, di tempat ngaji, dan masjid.
Suasana hening setelah magrib terbuyarkan oleh suara anak-anak mengaji, melafalkan bacaan salat, dan melantunkan nadzam. Komunitas perkampungan sangat taat pada norma yang berlaku saat itu. Suara-suara yang keluar dari radio dan televisi benar-benar dihentikan, dimatikan. Tidak sopan saat anak-anak sedang mengaji, malah menghidupkan radio atau televisi.
Setelah selesai mengaji, anak-anak pulang ke rumah, mendengarkan radio atau menonton televisi. Waktunya dibatasi, cukup sampai pukul 20.00. Sisanya diisi dengan kegiatan belajar dan mengerjakan tugas rumah sampai pukul 21.00 atau wanci sareureuh budak, waktu anak-anak beristirahat. Kepatuhan terhadap wanci ini menjadi alasan, orang-orang saat itu relatif tidak mudah terserang penyakit.
Generasi X telah membangun kisah menarik, kehidupan mereka benar-benar terpateri oleh kondisi alam. Alam senantiasa membersamai mereka, meskipun kadang-kadang mereka harus diingatkan oleh kisah menakutkan seperti cerita Sandekala, Kelong Wewe, dan sosok Mak Lampir. Ini dilakukan agar mereka kembali pada pemahaman: ikuti kehendak alam, maka kehidupan akan berjalan normal. ***





