Namun kenyataannya permasalahan yang terjadi dalam pelaksanaan kurikulum merdeka saat ini masih banyak diantaranya;
Pertama, kesiapan pendidik. Pendidik adalah pemeran utama untuk baiknya kualitstruktur dan juga konsep suatu kurikulum. Kualitas pendidikan akan terganggu dan tidak berjalan dengan baik jika tidak ada dukungan pendidik yang berkualitas. Keleluasaan bisa menjadi tantangan ketika pendidik belum siap dengan keleluasaan yang diberikan. Selama ini, pendidik cenderung mengajar dengan pendekatan seragam, menilai kemampuan dan capaian peserta didik dengan satu ukuran yang sama. Di Kurikulum Merdeka, mindset dan kebiasaan tersebut diubah. Pendidik dituntut menjadi mentor dan fasilitator bagi keragaman peserta didik, mendiagnosa potensi peserta didik, serta memberi pembelajaran yang sesuai tingkat pemahaman dan capaian masing-masing. Pendidik mesti bisa membuat peserta didik menjadi pembelajar aktif yang mandiri.
Kedua, kesiapan peserta didik. Tak hanya pendidik, ketidaksiapan peserta didik dalam Kurikulum Merdeka juga bisa menjadi tantangan. Keleluasaan dalam memilih apa yang akan dipelajari, harus tetap mendapatkan bimbingan dan support yang positif, baik dari pendidik maupun orang tua. Bimbingan di sini bukan berarti “menyetir” atau bahkan menekan, namun bagaimana memandu dan mendorong agar potensi dan kreativitas peserta didik bisa tergali, terasah, dan berkembang optimal.
Indonesia telah merdeka selama 78 tahun, semestinya pembangunan pendidikan mengalami kemajuan dan apa yang menjadi tujuan dari kurikulum merdeka dapat terwujud sebagai peningkatan kualitas SDM bangsa Indonesia yang merdeka.
Salam Merdeka






